Thailand Capai Kesepakatan dengan Iran untuk Lintasi Selat Hormuz dengan Aman
Giliran Thailand yang berhasil mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengizinkan kapal-kapal tanker minyak dari negara tersebut melintasi Selat Hormuz secara aman. Sebelumnya, kapal milik China, Rusia, Pakistan, Irak, India, dan Malaysia telah diizinkan melintas di jalur perairan strategis ini.
Dampak Perang terhadap Aktivitas Pelayaran
Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan vital untuk pasokan energi global, terdampak signifikan oleh perang berkelanjutan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu. Aktivitas perlintasan di Selat Hormuz telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret, memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
Menurut Badan Informasi Energi AS, lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz dibawa ke kawasan Asia. Sebagian besar negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, menanggung dampak kesulitan pasokan bahan bakar, dengan antrean panjang di pom bensin yang semakin sering terjadi.
Pengumuman Kesepakatan oleh Perdana Menteri Thailand
Kesepakatan antara Bangkok dan Teheran ini diumumkan oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dalam konferensi pers pada Sabtu (28/3) waktu setempat. "Sebuah kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal-kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz," kata Anutin, sembari menambahkan bahwa perkembangan ini akan mengurangi kekhawatiran tentang impor bahan bakar.
"Dengan adanya kesepakatan ini, ada keyakinan yang lebih besar bahwa gangguan seperti yang terjadi pada awal Maret tidak akan terulang kembali," sebutnya. Anutin juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus beradaptasi dengan situasi yang berkembang dan menyesuaikan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat.
Insiden dan Pembatasan di Selat Hormuz
Awal bulan ini, sebuah kapal jenis bulk carrier milik Thailand yang berlayar di jalur perairan strategis itu diserang dan tiga awak kapal dilaporkan hilang. Pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz, menurut platform pelacakan Kpler, dilaporkan anjlok 95 persen antara 1 Maret hingga 26 Maret setelah dimulainya perang.
Garda Revolusi Iran mengatakan pada Jumat (27/3) bahwa pasukan mereka telah memaksa mundur tiga kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan-pelabuhan milik "musuh" Iran.
Laporan badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris, UKMTO, menyebut bahwa sedikitnya 24 kapal komersial, termasuk 11 kapal tanker, telah diserang atau dilaporkan mengalami insiden di perairan Teluk, Selat Hormuz, atau Teluk Oman sepanjang bulan ini.
Negara-Negara Lain yang Diizinkan Melintas
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengonfirmasi bahwa sebuah kapal tanker Malaysia telah diberi izin oleh pemerintah Iran untuk melintasi Selat Hormuz. India, Irak, China, dan Pakistan juga diizinkan melintas oleh Iran. "Kini kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia beserta para pekerjanya agar mereka dapat meneruskan perjalanan pulang," ujar Anwar dalam pidato khusus.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. "Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat," ujarnya. Araghchi menambahkan bahwa untuk sejumlah negara yang dianggap bersahabat, angkatan bersenjata Iran telah memberikan pengawalan secara aman.
"Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir," lanjutnya.
Pembatasan untuk Negara Musuh
Araghchi juga menyatakan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas. Ia mengatakan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang berlangsung tidak akan diberi izin transit.
"Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya," ujarnya pada Rabu (25/03). Kesepakatan dengan Thailand ini diharapkan dapat meredakan ketegangan pasokan energi di kawasan Asia Tenggara.



