Reza Pahlavi Serukan Persiapan Rakyat Iran Usai Kematian Khamenei
Reza Pahlavi Serukan Persiapan Rakyat Iran Usai Kematian Khamenei

Reza Pahlavi Serukan Persiapan Rakyat Iran Usai Kematian Khamenei

Reza Pahlavi, putra mahkota atau keturunan shah terakhir Iran yang diasingkan dan kini tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat, telah buka suara menyusul kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pernyataannya, dia meminta rakyat Iran untuk bersiap menghadapi perubahan besar.

Reaksi Terhadap Laporan Kematian Khamenei

Dilansir dari New York Post dan akun X resmi Reza Pahlavi pada Minggu (1/3/2026), Pahlavi bereaksi terhadap laporan bahwa Khamenei tewas setelah serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Dia menggambarkan Khamenei sebagai "Zahhak yang haus darah", merujuk pada raja jahat dalam mitologi Iran, dan menyebutnya sebagai pembunuh puluhan ribu putra-putri Iran yang berani.

Pahlavi menulis di X, "Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah." Dia menegaskan bahwa setiap upaya rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei pasti akan gagal karena kurangnya legitimasi dan keterlibatan dalam kejahatan rezim tersebut.

Peringatan kepada Aparat Keamanan Iran

Putra mahkota yang diasingkan itu juga memperingatkan militer, keamanan, dan kepolisian di dalam negeri Iran untuk tidak mendukung rezim yang berkuasa. Dia mendesak aparat tersebut untuk bergabung dengan rakyat dalam membantu memastikan transisi Iran yang stabil menuju masa depan yang bebas dan makmur.

Pahlavi menyatakan bahwa kematian Khamenei menandai "perayaan nasional besar" bagi Iran. Dia mengajak warga Iran untuk siap siaga, dengan mengatakan, "Waktu untuk kehadiran besar-besaran dan tegas di jalanan sudah sangat dekat. Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mengamankan kemenangan akhir."

Latar Belakang Khamenei dan Konteks Sejarah

Sebagai informasi, Ayatollah Ali Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran pada tahun 1989 setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik yang memimpin revolusi Islam satu dekade sebelumnya. Meskipun Khomeini adalah kekuatan ideologis di balik revolusi yang mengakhiri monarki Pahlavi, Khamenei-lah yang membentuk aparat militer dan paramiliter yang memperkuat pertahanan Iran.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei telah memimpin Iran sebagai presiden selama perang berdarah dengan Irak pada tahun 1980-an. Konflik ini, ditambah dengan isolasi yang dirasakan banyak warga Iran karena dukungan Barat terhadap Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaannya terhadap Barat, terutama AS.

Khamenei juga dikenal sebagai pengajar yurisprudensi dan interpretasi teologi, yang memungkinkannya menjangkau audiens luas, termasuk mahasiswa muda yang kecewa dengan monarki. Monarki Iran pada masa itu telah dipulihkan ke kekuasaan absolut setelah kudeta yang diatur oleh MI6 dan CIA pada tahun 1953, yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh.

Sebagai aktivis politik, Khamenei berulang kali ditangkap oleh polisi rahasia Shah (SAVAK) dan diasingkan ke Iranshahr, tetapi kembali untuk berpartisipasi dalam protes tahun 1978 yang mengakhiri pemerintahan Pahlavi. Pernyataan Reza Pahlavi ini muncul dalam konteks sejarah yang kompleks, menekankan harapan untuk perubahan di Iran pasca-Khamenei.