Qatar Serukan Iran Hentikan Serangan dan Desak AS Kembali ke Jalur Diplomasi
Pemerintah Qatar secara resmi menyerukan Iran untuk segera menghentikan serangan-serangan militer terhadap wilayahnya dan negara-negara Teluk lainnya. Dalam perkembangan terbaru, Doha juga mendesak Amerika Serikat agar kembali kepada jalur perdamaian dan diplomasi dalam menyelesaikan konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah.
Situasi Memanas di Timur Tengah
Situasi keamanan di Timur Tengah semakin memanas sejak Amerika Serikat, bersama dengan Israel, melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada tanggal 28 Februari lalu. Sebagai respons, Teheran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar target-target di Israel serta negara-negara Teluk yang diketahui menampung aset militer Amerika Serikat.
Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulaziz al-Khulaifi, dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera pada Rabu (11/3/2026), dengan tegas menyatakan bahwa serangan-serangan Iran terhadap Qatar dan negara-negara tetangganya "harus segera dihentikan".
"Kami mengutuk, dengan sekeras-kerasnya, serangan-serangan yang tidak bisa dibenarkan dan keterlaluan terhadap negara Qatar, yang secara langsung berdampak pada kedaulatan kami," tegas Al-Khulaifi dalam pernyataannya yang dikutip oleh media tersebut.
Kekhawatiran atas Infrastruktur Sipil dan Militer
Al-Khulaifi mengungkapkan kekhawatiran mendalam Qatar terhadap serangan-serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, yang menurutnya tidak hanya menyasar infrastruktur militer tetapi juga infrastruktur sipil. Meskipun demikian, dia memuji kinerja layanan keamanan Qatar yang disebutnya telah berhasil mencegat setiap rudal dan drone yang terdeteksi di wilayah negara tersebut.
Lebih lanjut, diplomat Qatar tersebut mengingatkan bahwa serangan-serangan yang dilancarkan Iran justru akan merusak hubungan historis yang telah terjalin lama antara kedua negara. Dia menekankan bahwa Qatar secara konsisten telah menyerukan pendekatan diplomasi, termasuk melalui peran mediator Oman yang sebelumnya menengahi dialog terakhir antara Iran dan Amerika Serikat sebelum konflik bersenjata meletus.
"Negara-negara regional bukanlah musuh Iran, dan Iran tidak memahami gagasan tersebut," sebut Al-Khulaifi. "Mereka terus meluncurkan rudal dan terus menyerang negara Qatar dan negara-negara regional. Itu tidak membawa manfaat bagi Iran, bahkan faktanya, itu menciptakan kerusakan besar terhadap hubungan historis yang panjang tersebut."
Desakan untuk Kembali ke Meja Perundingan
Di sisi lain, Al-Khulaifi juga menyampaikan permintaan resmi Qatar kepada Amerika Serikat untuk kembali ke jalur perdamaian. Dia menyerukan agar perundingan segera kembali digelar antara semua pihak yang terlibat dalam konflik ini.
Dikatakan bahwa Qatar tetap menjaga jalur komunikasi terbuka dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama perang berkecamuk. Doha secara aktif telah mendorong Amerika Serikat—serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam konflik—untuk "kembali ke jalur perdamaian" dan kembali ke "meja perundingan".
Al-Khulaifi menegaskan kembali komitmen Qatar bahwa diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan yang realistis ke depan untuk mencapai penyelesaian yang berkelanjutan.
"Kami mempercayai bahwa tidak ada jalan lainnya untuk solusi yang berkelanjutan dan jangka panjang selain kembali ke meja perundingan," ucapnya dengan penuh keyakinan. "Qatar akan terus menyerukan deeskalasi, dan Qatar akan terus menyerukan solusi politik untuk konflik tersebut."
Pernyataan resmi dari pemerintah Qatar ini muncul dalam konteks ketegangan regional yang semakin meningkat, di mana serangan balasan antara pihak-pihak yang bertikai telah menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
