Nilai tukar dolar Amerika Serikat terus menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama dunia, termasuk rupiah. Penguatan ini tercatat selama lima hari berturut-turut hingga Jumat, 15 Mei 2026. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi di Amerika Serikat.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Kekhawatiran inflasi yang semakin tinggi memunculkan ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), berpotensi kembali menaikkan suku bunga. Langkah ini diyakini akan semakin memperkuat nilai dolar AS di pasar global.
Imbal Hasil Obligasi AS Meningkat
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan hingga mencapai 4,599 persen. Angka ini merupakan level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi para investor di seluruh dunia.
Tekanan Inflasi dari Lonjakan Harga Minyak
Tekanan inflasi di AS juga dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. Gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz akibat konflik yang melibatkan Iran menjadi faktor utama di balik kenaikan harga minyak tersebut. Situasi ini semakin memperkuat posisi dolar AS sebagai mata uang safe haven.



