Pakistan Perkuat Diplomasi, Upaya Mediasi Damai AS-Iran Dipercepat
Pakistan Perkuat Diplomasi Mediasi Damai AS-Iran

Pakistan Perkuat Diplomasi, Upaya Mediasi Damai AS-Iran Dipercepat

Pakistan semakin meningkatkan upaya diplomatiknya untuk menjadi mediator utama dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Langkah ini didasarkan pada hubungan strategis yang telah lama dijalin Pakistan dengan kedua negara, yaitu Iran dan AS, yang menjadi landasan kuat bagi peran mediasi tersebut.

Meskipun belum ada tanda-tanda konflik akan mereda dalam waktu dekat, pemerintah Pakistan di Islamabad telah mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan sejumlah negara kunci, termasuk Turki, Mesir, dan Arab Saudi, pada hari Minggu (29/03). Pertemuan ini bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan pembicaraan damai antara Washington dan Teheran.

Pernyataan Resmi dan Tanggapan dari Berbagai Pihak

Setelah pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyatakan bahwa Pakistan akan "merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang konstruktif antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang." Dar menambahkan bahwa Pakistan sangat senang karena baik Iran maupun AS telah menyatakan kepercayaan mereka kepada Pakistan untuk memfasilitasi pembicaraan, meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai hal ini.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Hingga saat ini, belum jelas apakah negosiasi akan dilakukan secara langsung atau melalui perantara. Baik AS maupun Iran juga belum mengonfirmasi kapan negosiasi akan dilaksanakan. Bahkan, kedua negara telah mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan mengenai apakah negosiasi akan benar-benar berlangsung.

Pada hari yang sama, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menepis rencana negosiasi yang akan berlangsung di Pakistan sebagai "kedok" untuk invasi. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan pendaratan 2.500 marinir AS di Timur Tengah, yang direspons Qalibaf dengan ancaman bahwa mereka akan "dibakar habis."

Iran sebelumnya telah menolak rencana perdamaian AS yang berisi 15 poin, yang disampaikan melalui Pakistan. Rencana tersebut dinilai "berlebihan, tidak masuk akal, dan tidak realistis" oleh Iran, karena meminta penghentian pengayaan nuklir, pembongkaran fasilitas nuklir, dan pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pada Senin (30/03), Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa ada pembicaraan yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers menegaskan, "Kami belum melakukan negosiasi langsung apa pun."

Trump sendiri telah berulang kali memberi sinyal bahwa beberapa bentuk negosiasi antara AS dan Iran sedang berlangsung. Namun, dalam unggahan terbarunya di Truth Social, Trump juga mengancam akan "menghancurkan" infrastruktur energi Iran jika Iran tidak segera membuat "kesepakatan" dan membuka Selat Hormuz.

Upaya Pakistan Menjaga Keseimbangan Diplomatik

Islamabad berupaya mengukuhkan kembali relevansi diplomatiknya dengan menempatkan diri sebagai mitra dialog yang kredibel, memanfaatkan hubungannya dengan Washington, Teheran, dan negara-negara Teluk. Raza Rumi, seorang analis asal Pakistan yang berbasis di AS, menjelaskan kepada DW bahwa konflik AS-Iran secara langsung mengancam stabilitas ekonomi Pakistan, mengingat ketergantungannya pada pasokan energi dari Teluk dan kiriman uang dari luar negeri.

Pakistan harus berhati-hati dalam menyeimbangkan diplomasi karena memiliki pakta pertahanan dengan Arab Saudi, serta ikatan budaya dan perbatasan sepanjang 900 kilometer dengan Iran. "Peran mediator memberi kesempatan bagi Pakistan untuk tampil sebagai aktor stabilisator sekaligus melindungi diri dari dampak perang regional yang meluas," tambah Rumi.

Selama masa pemerintahan kedua Trump, hubungan AS-Pakistan semakin membaik. Trump telah dua kali menerima Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dan menyebut jenderal Pakistan tersebut sebagai "panglima lapangan favorit."

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Fatemeh Aman, seorang pakar Iran-Pakistan yang sebelumnya bekerja di Middle East Institute dan Atlantic Council, mengatakan kepada DW bahwa Pakistan termasuk salah satu dari sedikit negara yang mampu menjaga komunikasi baik dengan Washington maupun Teheran tanpa dianggap remeh. Dia menambahkan bahwa motivasi Pakistan juga untuk mengelola konflik yang berpotensi menimbulkan dampak di dalam negerinya dalam waktu singkat.

Kekhawatiran Pakistan akan Pecahnya Perang Regional

Pakistan masih terlibat konflik dengan Taliban di negara tetangganya, Afganistan, ditambah ancaman militan dari kelompok separatis di Provinsi Balochistan, yang berbatasan dengan Iran. "Ada urgensi. Ketidakstabilan di Iran secara langsung mempengaruhi Pakistan, dari keamanan Balochistan hingga akses energi dan stabilitas domestik," kata Aman.

Ancaman utama bagi Pakistan adalah jika negosiasi AS–Iran gagal dan perang berkepanjangan terus mengganggu pasokan energi melalui Selat Hormuz, yang akan memperburuk kondisi ekonomi Pakistan yang sudah rapuh. "Kegagalan akan membuat Pakistan langsung menghadapi guncangan ekonomi dan keamanan. Gangguan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz, akan memicu inflasi dan memperburuk tekanan fiskal. Risiko di sepanjang perbatasan barat Pakistan dengan Iran juga meningkat, termasuk arus pengungsi dan aktivitas militan," ujar Rumi.

Ancaman berikutnya dari konflik berkepanjangan adalah situasi keamanan di sepanjang perbatasan barat Pakistan dengan Iran. Aman mengatakan kondisi tersebut akan membuat rute perdagangan menjadi kurang dapat diandalkan, dan operasional di daerah yang lebih luas akan sulit dikendalikan. "Konflik berkepanjangan meningkatkan tekanan di sepanjang perbatasan Iran-Pakistan. Hal ini juga membuka peluang bagi kelompok-kelompok militan serta meningkatkan risiko kerusuhan di dalam negeri. Masalahnya bukanlah apakah Pakistan berhasil secara diplomatik. Masalahnya adalah jika situasi terus memanas, mau tidak mau Pakistan harus menghadapi dampaknya," katanya.

Posisi Pakistan di Timur Tengah dan Tantangan ke Depan

Pakistan telah memperkuat kemitraan puluhan tahun dengan Arab Saudi melalui pakta pertahanan bersama, yang menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dianggap sebagai serangan terhadap keduanya. Pada saat yang sama, Pakistan juga memiliki hubungan mendalam dengan Iran.

Jika negara-negara Teluk ikut terlibat dalam konflik dan perang regional meluas, upaya keseimbangan Pakistan akan semakin sulit. "Jika Arab Saudi ikut dalam perang, Pakistan akan menghadapi tekanan untuk memberikan dukungan, setidaknya secara simbolis. Namun, keterlibatan militer langsung akan tidak stabil dan tidak bijaksana," ujar Rumi.

"Perannya kemungkinan dibatasi pada kerja sama defensif. Iran tidak akan menganggap Pakistan sebagai musuh utama kecuali Pakistan terlibat langsung. Namun, bahkan aliansi terbatas dengan Arab Saudi bisa memicu ketegangan perbatasan, aksi proksi, atau tekanan ekonomi," tambahnya.

Bagi Pakistan, tantangannya adalah mereka tidak bisa begitu saja memperlakukan Iran sebagai musuh, bahkan jika Saudi meminta dukungan militer. "Akan ada tekanan pada Pakistan jika Saudi terlibat langsung, tetapi tekanan tidak sama dengan partisipasi. Pakistan pernah menolak untuk terlibat dalam perang Timur Tengah sebelumnya. Keterlibatan akan membawa konsekuensi berat: ketegangan sektarian, instabilitas perbatasan, dan tekanan ekonomi," jelas Aman.

Ia menambahkan bahwa serangan langsung Iran terhadap kepentingan Pakistan tidak mungkin terjadi, tetapi jika Pakistan terlihat mendukung aksi militer terhadap Iran, risikonya akan meningkat. Iran lebih mungkin memberi tekanan secara tidak langsung, melalui ketegangan perbatasan atau kelompok proksi, sambil menghindari konfrontasi penuh.