Menhan AS Klaim Pemimpin Tertinggi Baru Iran Terluka dan Alami Cacat Fisik
Menhan AS Klaim Pemimpin Baru Iran Terluka dan Cacat

Menhan AS Sebut Pemimpin Baru Iran Alami Cedera dan Cacat Fisik

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengeluarkan klaim kontroversial mengenai kondisi pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei. Dalam pernyataan yang disampaikan pada konferensi pers di Washington DC, Hegseth menyatakan bahwa Mojtaba berada dalam kondisi terluka dan kemungkinan mengalami cacat fisik akibat serangan gabungan AS dan Israel.

Klaim Hegseth Didukung Pernyataan Trump

Klaim ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (12/3/2026), mengungkapkan keyakinannya bahwa Mojtaba masih hidup namun mengalami cedera. Spekulasi mengenai kondisi pemimpin baru Iran ini semakin menguat karena Mojtaba belum pernah muncul secara langsung di hadapan publik sejak terpilih sebagai pemimpin tertinggi pada 1 Maret lalu.

Hegseth menegaskan, "Kita mengetahui bahwa pemimpin yang disebut-sebut tidak begitu tertinggi itu terluka dan kemungkinan mengalami cacat fisik. Dia merilis pernyataan kemarin. Pernyataan yang lemah, sebenarnya, tetapi tidak ada suara dan tidak ada video. Itu adalah pernyataan tertulis."

Iran Akui Luka Ringan pada Pemimpin Baru

Sementara itu, otoritas Iran telah mengakui bahwa pemimpin tertinggi mereka yang baru mengalami luka-luka. Seorang pejabat Teheran yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa Mojtaba menderita luka ringan dan masih dapat melanjutkan aktivitasnya. Duta Besar Iran untuk Jepang, Peyman Saadat, juga menegaskan bahwa Mojtaba tidak dalam kondisi melemah.

"Yang kami ketahui adalah bahwa dia menderita luka-luka akibat perang saat ini, ketika pemimpin tertinggi saya dibunuh. Tetapi bukan dengan cara yang akan mencegahnya untuk berfungsi. Dia adalah pemimpin yang berfungsi," kata Saadat dalam wawancara dengan Asahi TV.

Pernyataan Pertama Mojtaba Secara Tertulis

Pernyataan pertama Mojtaba kepada publik sebagai pemimpin tertinggi Iran disampaikan secara tertulis dan dibacakan oleh presenter televisi pemerintah Iran pada Kamis (12/3). Dalam pernyataan tersebut, Mojtaba berjanji untuk tetap menutup Selat Hormuz dan menyerukan negara-negara tetangga Iran menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka.

Hegseth mempertanyakan mengapa pernyataan tersebut hanya dalam bentuk tertulis, bukan video atau audio. "Iran memiliki banyak kamera dan memiliki banyak alat perekam suara. Mengapa pernyataan tertulis? Saya rasa Anda mengetahui alasannya. Ayahnya -- tewas. Dia takut, dia terluka, dia menjadi buronan, dan dia tidak memiliki legitimasi," ujar Menhan AS itu.

Latar Belakang Konflik dan Dampaknya

Serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu menewaskan sebagian besar keluarga Mojtaba, termasuk ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei, ibunya, dan istrinya. Sejak peristiwa tersebut, tidak ada foto terbaru Mojtaba yang dirilis oleh otoritas Iran, yang semakin memicu spekulasi mengenai kondisinya.

Klaim Hegseth ini menambah ketegangan dalam hubungan antara AS dan Iran, yang telah memanas sejak serangan awal perang. Pernyataan dari kedua belah pihak menunjukkan perbedaan pandangan yang signifikan mengenai kondisi dan legitimasi pemimpin baru Iran.