Lavrov: Palestina Terlupakan Akibat Perang AS-Israel Vs Iran
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengingatkan bahwa masalah Palestina saat ini berada dalam krisis mendalam, terutama karena eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Dalam pernyataannya, Lavrov menyebut Palestina dengan mudah terlupakan saat perhatian global teralihkan oleh perang yang berkecamuk antara AS-Israel melawan Iran.
Fokus Dunia Beralih dari Palestina
Berbicara dalam konferensi pers di Moskow, seperti dilansir TRT World pada Selasa (17/3/2026), Lavrov menjelaskan bahwa sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu, diskusi tentang isu-isu Timur Tengah utamanya berfokus pada pembentukan negara Palestina. Sekarang semua orang berbicara tentang krisis dan konflik di Timur Tengah, tetapi mereka sama sekali tidak merujuk pada Palestina. Palestina dengan mudah terlupakan, kata Lavrov dalam pernyataannya yang tegas.
Dia menggambarkan sikap ini sebagai pukulan paling serius terhadap reputasi komunitas internasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya meyakini semua orang di sini, mungkin yang pertama dan terpenting, negara-negara di kawasan, negara-negara Arab, perlu mengakui tanggung jawab mereka. Dan kita akan siap untuk secara aktif mendukung pendekatan tersebut, sehingga PBB bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil, ujarnya menegaskan.
Prioritas Penghentian Permusuhan
Mengenai peningkatan ketegangan antara AS, Israel, dan Iran, Lavrov menyebut penghentian permusuhan sebagai langkah mendesak dan prioritas. Segala upaya harus dilakukan untuk memastikan bahwa semua pihak yang terlibat dalam krisis ini menghentikan tindakan yang merusak infrastruktur sipil dan menyebabkan korban jiwa di kalangan sipil, cetusnya. Dia berargumen bahwa Washington dan Tel Aviv sudah menyadari betapa besar kesalahan perhitungan mereka dengan operasi cepat terhadap Teheran.
Lavrov menegaskan kembali kesediaan Rusia untuk berperan sebagai mediator jika upaya benar-benar diarahkan untuk menyelesaikan krisis. Dia juga menekankan bahwa Iran membutuhkan jaminan keamanan yang konkret dalam situasi ini.
Kritik terhadap Kebijakan AS
Terakhir, dia mengkritik pernyataan AS tentang keinginan untuk mengambil semua uranium yang diperkaya milik Iran, dengan mengatakan bahwa pendekatan semacam itu menunjukkan niat Washington untuk mengendalikan sumber daya energi dunia. Pernyataan ini menambah dimensi baru dalam analisis geopolitik kawasan Timur Tengah yang sedang memanas.
Dengan pernyataan Lavrov ini, isu Palestina kembali diangkat ke permukaan, meskipun tenggelam oleh konflik yang lebih besar antara kekuatan global dan regional. Situasi ini menyoroti kompleksitas dinamika politik internasional dan tantangan dalam mencapai perdamaian yang berkelanjutan di kawasan tersebut.
