Khamenei Peringatkan Iran Mampu Tenggelamkan Kapal Perang AS di Teluk
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengeluarkan peringatan keras bahwa negara tersebut memiliki kapabilitas militer untuk menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan Teluk. Ancaman ini disampaikan pada Selasa (17/2) waktu setempat, menanggapi peningkatan kekuatan militer AS di wilayah tersebut.
Latar Belakang Ketegangan Militer
Peningkatan ketegangan ini terjadi seiring dengan upaya Presiden AS Donald Trump yang meningkatkan tekanan pada Iran untuk mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya. Dengan dimediasi oleh Oman, AS dan Iran terlibat dalam pembicaraan intensif yang bertujuan mencegah kemungkinan tindakan militer AS. Sementara itu, Teheran secara tegas menuntut pencabutan sanksi AS yang telah melumpuhkan ekonomi mereka.
Delegasi dari kedua negara terlihat meninggalkan lokasi pembicaraan di kediaman duta besar Oman pada Selasa sore waktu setempat, menandakan dinamika negosiasi yang kompleks.
Pernyataan Khamenei yang Tegas
Dalam pidatonya yang dilansir oleh Al Arabiya pada Rabu (18/2/2026), Khamenei menyatakan, "Kita terus mendengar bahwa mereka telah mengirim sebuah kapal perang ke arah Iran. Kapal perang tentu saja merupakan senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu menenggelamkannya." Ia menambahkan bahwa Trump tidak akan berhasil menghancurkan Republik Islam Iran, menegaskan keteguhan posisi negaranya.
Respons dan Ancaman dari Washington
Trump sebelumnya telah memperingatkan adanya konsekuensi serius jika Teheran gagal mencapai kesepakatan. Ia berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer, yang awalnya dipicu oleh tindakan keras otoritas Iran terhadap para demonstran bulan lalu, dan kemudian fokus pada program nuklir Iran.
Washington telah memerintahkan pengiriman dua kapal induk ke wilayah Teluk. Kapal induk pertama, USS Abraham Lincoln beserta hampir 80 pesawat militer, berada sekitar 700 kilometer (435 mil) dari pantai Iran pada Minggu lalu, berdasarkan citra satelit. Kapal induk kedua dikirim pada akhir pekan lalu, seiring dengan peningkatan tekanan dari Trump.
"Saya rasa mereka tidak ingin menanggung konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan," kata Trump kepada wartawan sebelum pembicaraan, mengisyaratkan risiko konflik yang lebih luas.
Isu-Isu dalam Pembicaraan
Pemerintah Iran bersikeras agar pembicaraan dibatasi hanya pada isu nuklir, meskipun Washington sebelumnya telah mendorong agar topik lain juga dibahas. Topik tersebut mencakup program rudal balistik Iran dan dukungannya untuk kelompok-kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Selasa (17/2) menegaskan bahwa pencabutan sanksi harus menjadi bagian integral dari kesepakatan apa pun, menekankan pentingnya relief ekonomi bagi Iran.
Ketegangan ini menyoroti kompleksitas hubungan internasional di kawasan yang rawan konflik, dengan potensi implikasi global jika diplomasi gagal mencapai titik temu.