JK: Modal Utama Mediasi Konflik Adalah Kepercayaan dari Pihak yang Bertikai
Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk berperan sebagai penengah dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Pernyataan ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum tentang Dinamika Konflik Timur Tengah yang diselenggarakan di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, pada Selasa (7/4/2026).
Jawaban atas Pertanyaan Kritis Mahasiswa UI
Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa UI menanyakan apakah Indonesia mampu berperan dalam konflik global, khususnya yang terjadi di Timur Tengah. JK dengan tegas menjawab, "Dapat saja, pasti. Asal kita mempunyai kepercayaan dari mereka (pihak yang berkonflik)." Menurutnya, kepercayaan merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh suatu negara jika ingin mendamaikan pertikaian antara dua pihak yang berseteru.
Namun, JK juga mengakui bahwa saat ini terdapat hambatan signifikan. "Sekarang ini seperti Iran, dia tidak terlalu percaya kita. Dianggapnya kita terlalu berpihak ke Amerika," ujar mantan Ketua Umum Palang Merah Indonesia tersebut. Persepsi ini, lanjut JK, menyebabkan Iran tidak terlalu menghormati Indonesia, sehingga menghambat upaya penyelesaian konflik. "Akhirnya Iran jadi tidak terlalu respect. Sehingga kita tidak bisa menyelesaikan, ikut menyelesaikan (konflik)," tambahnya.
Pentingnya Politik Bebas Aktif dan Teladan Bung Karno
JK menekankan bahwa Indonesia harus konsisten mengedepankan politik luar negeri bebas aktif. Dia mengingatkan kembali peran monumental Presiden pertama RI, Sukarno, yang berhasil menggerakkan dunia melalui Konferensi Asia Afrika (KAA). "Bung Karno tegas, bisa memprakarsai Konferensi Asia Afrika dan itulah memerdekakan banyak negara dan mendamaikan karena tegas. Jadi kita bisa punya (peran) selama hubungan diplomatik kita baik dan kita tetap berada di posisi katakanlah kita kelompok nonblok," jelasnya.
Posisi nonblok, menurut JK, merupakan kunci agar Indonesia dapat diterima oleh berbagai pihak tanpa dianggap berat sebelah. Hal ini sejalan dengan prinsip diplomasi yang netral namun aktif dalam upaya perdamaian dunia.
Pengalaman Pribadi JK dalam Menjaga Komunikasi dengan Kedua Pihak
Berdasarkan pengalamannya sendiri, JK mengungkapkan bahwa dia secara rutin menjalin komunikasi dengan petinggi Iran maupun perwakilan Amerika Serikat untuk mencari titik tengah penyelesaian konflik. "Saya bicara dengan Dubes Iran, berkali-kali datang ke rumah saya. Saya bicara dengan pihak Amerika, penasihatnya Trump, saya bicara 'kenapa kau begini?' Harus dua-duanya, tidak bisa satu saja," ujar JK.
Pendekatan ini menunjukkan pentingnya dialog yang berimbang dan inklusif. JK menegaskan bahwa mediasi tidak akan efektif jika hanya melibatkan satu pihak, karena penyelesaian konflik memerlukan komitmen dan kesepakatan dari semua yang terlibat.
Kuliah umum ini tidak hanya menyoroti potensi Indonesia di kancah global, tetapi juga mengingatkan pentingnya membangun dan memelihara kepercayaan internasional. Dengan politik luar negeri yang tepat dan konsistensi dalam prinsip nonblok, Indonesia diharapkan dapat berkontribusi lebih besar dalam menciptakan perdamaian dunia, khususnya di wilayah yang rawan konflik seperti Timur Tengah.



