Jimly Asshiddiqie Usul Indonesia Tangguhkan Keanggotaan di BoP Sampai 2 Syarat Ini Terpenuhi
Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie, memberikan saran strategis kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai posisi Indonesia di kancah global. Dalam pernyataannya di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (5/3/2026), Jimly mengusulkan agar Indonesia menangguhkan keanggotaannya dalam Board of Peace (BoP). Langkah ini dinilai sebagai bentuk tekanan diplomatik yang penting untuk mendorong perdamaian di kawasan Timur Tengah yang sedang memanas.
Dua Syarat Kunci untuk Kembali Aktif
Jimly menegaskan bahwa penangguhan keanggotaan bukan berarti mundur, melainkan strategi untuk melihat konsistensi dalam upaya perdamaian. Ia menyatakan, "Kita menyatakan menangguhkan kewajiban keanggotaan kita sampai dua hal. Satu, sampai perang Iran versus Amerika dan Israel ini reda. Yang kedua, sampai ada kepastian jadwal pengakuan Israel kepada kemerdekaan Palestina." Dengan kata lain, Indonesia akan kembali aktif di BoP hanya setelah konflik bersenjata mereda dan ada komitmen jelas mengenai kedaulatan Palestina.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini berharap Indonesia, sebagai negara muslim non-Arab terbesar di dunia, dapat berperan sebagai jembatan perdamaian. Ia memperingatkan agar dunia Islam tidak terjebak dalam upaya adu domba atau konflik sektarian yang sengaja diciptakan. "Kita sudah saatnya berperan untuk bagaimana menjebatani potensi konflik adu domba dari Israel kepada dunia Islam. Bangsa Arab dengan bangsa non-Arab, Turki, Persia atau Iran, Indonesia dan Pakistan mudah-mudahan bisa merujukkan dunia Islam," pungkas Jimly dengan penuh harap.
Apresiasi dan Dorongan untuk Langkah Strategis
Selain usulan penangguhan, Jimly juga memberikan apresiasi tinggi kepada Presiden Prabowo atas sikap resmi pemerintah Indonesia terkait situasi di Timur Tengah. Ia menyoroti pernyataan duka cita yang disampaikan Prabowo kepada pemerintah Iran atas wafatnya Supreme Leader mereka. "Nah, tentu soal Iran, Israel, saya juga ingin menyampaikan apresiasi kemarin beliau sudah membuat statement resmi turut belasungkawa, ya kan, kepada pemerintah Iran atas wafatnya Supreme Leader-nya, itu di atasnya Presiden," ujarnya.
Menurut Jimly, ungkapan belasungkawa tersebut mencerminkan ideologi bangsa yang berdasarkan Pancasila, terutama nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Ia menegaskan, tindakan kekerasan terhadap pemerintahan sah suatu negara tidak dapat ditoleransi dalam hukum internasional maupun nilai-nilai luhur Indonesia. Namun, Jimly berpendapat bahwa belasungkawa saja tidak cukup. Ia mendorong pemerintah untuk mengambil langkah strategis lebih jauh, terutama dalam meningkatkan posisi tawar Indonesia terhadap Amerika Serikat.
"Mestinya enggak cukup dong. Kalau menurut saya sih ya, hubungan kita dengan Amerika sudah bagus sekali. Kalau mendengar pidato Donald Trump sesudah penandatanganan perjanjian-perjanjian Tarif, baik pengusaha Amerika maupun Presiden Donald Trump sendiri, waduh senang sekali," ungkap Jimly. Dengan demikian, ia menekankan pentingnya memanfaatkan hubungan baik tersebut untuk mendorong agenda perdamaian yang lebih konkret.
Usulan Jimly Asshiddiqie ini muncul di tengah dinamika politik global yang kompleks, menegaskan peran Indonesia sebagai aktor penting dalam diplomasi internasional. Langkah penangguhan keanggotaan di BoP, jika diterapkan, dapat menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia serius mendorong penyelesaian damai di Timur Tengah, sambil tetap menjaga prinsip-prinsip kemanusiaan dan kedaulatan bangsa.
