Iran Tutup Sebagian Selat Hormuz untuk Latihan Militer, Ancam Pasokan Minyak Global
Teheran - Iran pada Selasa (17/2) mengumumkan penutupan sebagian Selat Hormuz di mulut Teluk Persia, sebuah jalur pelayaran yang sangat vital bagi perdagangan minyak dunia. Televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa penutupan ini merupakan langkah "keamanan" yang terkait dengan latihan militer Garda Revolusi yang dimulai sehari sebelumnya. Meskipun belum jelas berapa lama penutupan parsial ini akan berlangsung, laporan dari Associated Press memperkirakan bahwa pembatasan tersebut hanya akan berjalan selama beberapa jam.
Latar Belakang dan Ancaman Strategis
Iran telah berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut sebagai sinyal bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur maritim strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Langkah ini terjadi tepat pada saat perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menggelar putaran kedua pembicaraan mengenai program nuklir Teheran di Jenewa. Dalam beberapa pekan terakhir, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah untuk menekan Republik Islam itu terkait ambisi nuklirnya serta penindasan berdarah terhadap protes anti-pemerintah.
Pentingnya Selat Hormuz bagi Perdagangan Minyak
Selat Hormuz merupakan jalur air penting yang berada di antara Oman dan Iran, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebutnya sebagai "titik penyempitan transit minyak terpenting di dunia." Pada titik tersempitnya, lebar selat hanya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran masing-masing sekitar 3 kilometer ke dua arah, sehingga lalu lintasnya sangat padat dan berisiko tinggi.
Volume besar minyak mentah yang diproduksi oleh negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dari ladang minyak di kawasan Teluk Persia, serta yang dikonsumsi secara global, mengalir melalui selat ini. Menurut data dari Vortexa, konsultan pasar energi dan pengapalan, sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar diperkirakan melintasi jalur tersebut setiap hari. Qatar, salah satu produsen gas alam cair atau LNG terbesar di dunia, juga sangat bergantung pada selat itu untuk mengekspor LNG-nya.
Kewaspadaan Pemilik Kapal dan Risiko Konflik
Konflik antara Israel dan Iran tahun lalu kembali menyoroti isu keamanan di perairan tersebut. Di masa lalu, Iran pernah mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas tekanan dari Barat. Meskipun selama perang 12 hari pada Juni lalu tidak terjadi serangan besar terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut, para pemilik kapal tetap waspada. Sejumlah kapal telah meningkatkan pengamanan, sementara sebagian lainnya membatalkan rute ke wilayah itu selama konflik, seperti dilaporkan oleh Associated Press.
Gangguan elektronik terhadap sistem navigasi kapal komersial juga melonjak di sekitar selat dan kawasan Teluk yang lebih luas selama konfrontasi tahun lalu, menurut sumber angkatan laut kepada Reuters. Blokade berkepanjangan atau gangguan terhadap arus minyak berpotensi memicu lonjakan tajam harga minyak mentah dan memukul negara-negara pengimpor energi, terutama di Asia.
Dampak bagi Negara-Negara Pengimpor dan Produsen
EIA memperkirakan bahwa sekitar 82 persen pengiriman minyak mentah dan bahan bakar lain yang melintasi selat ditujukan ke konsumen di Asia. Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama, dengan keempat negara tersebut secara bersama-sama menyumbang hampir 70 persen dari total arus minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz. Pasar-pasar inilah yang kemungkinan paling terdampak jika terjadi gangguan pasokan.
Jika Iran benar-benar menutup selat secara penuh, langkah itu berpotensi memicu intervensi militer dari AS. Penutupan jangka panjang juga dapat mengganggu hubungan Teheran dengan negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang dalam beberapa tahun terakhir berupaya memperbaiki hubungan dengan Iran. Selain itu, Iran sendiri bergantung pada Selat Hormuz untuk mengekspor minyak ke mitra dagangnya, sehingga penutupan selat dinilai kontraproduktif.
Analis JP Morgan Natasha Kaneva, Prateek Kedia, dan Lyuba Savinova, seperti dikutip Reuters, menulis bahwa "Ekonomi Iran sangat bergantung pada kelancaran arus barang dan kapal melalui jalur laut ini, karena seluruh ekspor minyaknya berbasis laut." Mereka menambahkan bahwa "Menutup Selat Hormuz akan menjadi langkah yang merugikan hubungan Iran dengan satu-satunya pembeli minyaknya, China."
Jalur Alternatif dan Upaya Mitigasi
Negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam beberapa tahun terakhir telah mengembangkan jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. Kedua negara membangun infrastruktur untuk menyalurkan sebagian minyak mentah melalui rute lain. Arab Saudi mengoperasikan Pipa Minyak Mentah Timur–Barat dengan kapasitas 5 juta barel per hari, sementara Uni Emirat Arab memiliki pipa yang menghubungkan ladang minyak daratnya ke terminal ekspor Fujairah di Teluk Oman.
EIA memperkirakan bahwa sekitar 2,6 juta barel minyak mentah per hari dapat dialihkan untuk menghindari Selat Hormuz jika terjadi gangguan di jalur tersebut. Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa meskipun Selat Hormuz tetap kritis, ada langkah-langkah mitigasi yang dapat mengurangi dampak dari potensi penutupan atau gangguan lebih lanjut.