Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata Trump, Sebut Retorika Arogan Tak Berpengaruh
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi telah mempelajari proposal gencatan senjata selama 45 hari yang diusulkan oleh mediator dari Mesir, Pakistan, dan Turki. Namun, Iran dengan tegas menolak proposal tersebut, menyebutnya sebagai langkah yang tidak memadai untuk mengakhiri konflik secara definitif.
Trump: Proposal Signifikan tapi Belum Cukup
Dalam acara Paskah di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa proposal gencatan senjata ini merupakan langkah yang signifikan dan penting, meskipun belum cukup. "Perang ini bisa berakhir dengan sangat cepat jika mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Ada hal-hal tertentu yang harus dipenuhi. Mereka tahu itu dan saya kira mereka telah bernegosiasi dengan itikad baik," ujarnya kepada wartawan.
Trump menegaskan bahwa tenggat waktu yang diberikan kepada Iran hingga Selasa, 7 April 2026, bersifat final. Pernyataan ini muncul setelah kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa Teheran menolak gencatan senjata dan bersikeras pada perlunya mengakhiri konflik secara menyeluruh.
Ancaman Trump: Hancurkan Infrastruktur Iran
Trump kembali memperingatkan akan menghancurkan infrastruktur Iran jika tidak tercapai kesepakatan sebelum tenggat waktu. Ia mengklaim bahwa militer AS telah menyiapkan rencana perang untuk meluluhlantakkan setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran. "Seluruh pembangkit listrik di Iran akan lumpuh, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi," tegas Trump. "Kehancuran total bisa terjadi hanya dalam waktu empat jam jika kami menginginkannya."
Namun, Trump juga menyatakan kesediaan Washington untuk membantu Teheran melakukan rekonstruksi jika kesepakatan tercapai. Sebelumnya, media Iran melaporkan bahwa Teheran menolak proposal gencatan senjata dan mengajukan 10 tuntutan, termasuk kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Militer Iran: Retorika Arogan Tak Pengaruhi Operasi
Sehari menjelang tenggat ultimatum Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz, militer Iran menyatakan bahwa retorika presiden AS itu tidak akan menghentikan pasukan mereka. Khatam al-Anbiya, juru bicara militer Iran, dikutip kantor berita Tasnim mengatakan, "Retorika kasar, arogan, dan ancaman tak berdasar dari presiden AS yang delusional tidak berpengaruh terhadap kelanjutan operasi penyerangan dan penghancuran yang dilakukan para pejuang Islam terhadap musuh Amerika dan Zionis."
Khatam menambahkan bahwa ancaman tersebut "tidak akan mampu menutupi aib dan kehinaan Amerika di kawasan Asia Barat." Iran menolak proposal gencatan senjata terbaru, dengan menekankan bahwa mereka hanya akan menerima pengakhiran perang dengan jaminan tidak akan diserang lagi.
Iran Ajukan 10 Tuntutan dan Respons Mediator
Kantor berita IRNA melaporkan bahwa Teheran telah menyampaikan responsnya kepada mediator Pakistan. Sebagai gantinya, Iran telah membuat 10 tuntutan, yang meliputi:
- Penghentian konflik di kawasan Timur Tengah.
- Penyusunan protokol untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
- Pencabutan sanksi internasional terhadap Iran.
- Upaya rekonstruksi pasca-perang.
Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo, menegaskan, "Kami tidak akan sekadar menerima gencatan senjata. Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi."
Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Tewas dalam Serangan Israel
Sementara itu, Israel mengonfirmasi bahwa serangannya telah menewaskan Majid Khademi, kepala intelijen Garda Revolusi Iran, dan menegaskan akan menargetkan para pemimpin Iran "satu per satu." Serangan udara juga menghantam kota Qom dan sejumlah wilayah lain, memicu peringatan balasan dari Teheran.
Dengan tenggat waktu yang ditetapkan Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz kian mendekat, ketegangan antara AS dan Iran terus memanas, memperumit upaya perdamaian di kawasan yang sudah dilanda konflik berkepanjangan.



