Iran Tegaskan Penutupan Selat Hormuz, Kapal Tanker Terus Jadi Sasaran
Selat Hormuz tetap menjadi zona berbahaya bagi kapal tanker minyak setelah Iran menegaskan penutupan jalur strategis tersebut. Komandan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Alireza Tangsiri, memperingatkan bahwa setiap kapal militer Amerika Serikat atau sekutunya yang melintasi selat itu akan menjadi target serangan.
Ancaman Rudal dan Drone Bunuh Diri
"Klaim tentang kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS sama sekali tidak benar," tegas Tangsiri. "Setiap pelayaran armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone bunuh diri Iran."
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap klaim Menteri Energi AS Chris Wright yang menyebut Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker melalui selat tersebut. Namun, unggahan Wright di platform X kemudian dihapus, menimbulkan pertanyaan tentang kebenaran informasi tersebut.
Penurunan Drastis Lalu Lintas Kapal Tanker
Menurut data perusahaan analisis Kpler yang mengoperasikan platform MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mengalami penurunan hingga 90 persen dalam seminggu terakhir. Padahal, selat ini biasanya menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global.
Menteri Luar Negeri Iran menuduh AS menyebarkan berita palsu tentang Selat Hormuz untuk memanipulasi pasar keuangan. Unggahan diplomat senior Iran Abbas Araghchi muncul setelah AS menarik kembali klaim bahwa kapal perangnya telah mengawal kapal tanker energi melalui selat tersebut.
Serangan terhadap Kapal Kargo Thailand
Insiden terbaru melibatkan kapal kargo Thailand Mayuree Naree yang terkena proyektil Iran saat melintasi Selat Hormuz. IRGC mengaku menyerang kapal tersebut serta sebuah kapal berbendera Liberia karena mengabaikan peringatan.
Tiga awak kapal dilaporkan hilang dan diyakini terjebak di ruang mesin yang rusak akibat serangan. Perusahaan transportasi Thailand, Precious Shipping, menyatakan pihak berwenang sedang berupaya menyelamatkan mereka.
Perintah Pemimpin Baru Iran
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, memerintahkan pasukannya untuk tetap menutup Selat Hormuz. Dalam pernyataan pertamanya setelah berhari-hari tidak muncul ke publik, Khamenei menegaskan:
"Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan."
Khamenei, yang ayahnya dan pendahulunya Ali Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel, juga menyerukan balas dendam dan meminta negara-negara Teluk menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka.
Ultimatum kepada Negara Lain
IRGC mengeluarkan ultimatum bahwa negara-negara akan mendapatkan akses tanpa hambatan untuk melintasi Selat Hormuz jika mereka mengusir Duta Besar AS dan Israel dari wilayah mereka. "Setiap negara Arab atau Eropa yang mengusir duta besar Israel dan Amerika akan memiliki kebebasan penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok," bunyi pengumuman resmi IRGC.
Sebagai informasi, pengiriman di sekitar Selat Hormuz hampir terhenti selama beberapa hari terakhir akibat serangan Iran. Sejumlah kapal yang mencoba melintas menjadi sasaran di Teluk di lepas pantai Uni Emirat Arab dan Irak.
