Iran Tegaskan Komitmen Balas Serangan AS-Israel ke Turki Usai Rudalnya Dihantam NATO
Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araqchi telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan bahwa Teheran akan melanjutkan respons militernya terhadap serangan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Komunikasi ini terjadi menyusul insiden di mana sebuah rudal balistik Iran yang diarahkan ke Siprus berhasil dihantam oleh sistem pertahanan udara NATO yang ditempatkan di wilayah Turki.
Percakapan Telepon dan Pernyataan Keras Iran
Dalam percakapan telepon yang dilaporkan oleh Aljazeera pada Kamis, 5 Maret 2026, Araqchi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tidak akan berhenti sampai apa yang ia sebut sebagai "kejahatan musuh" telah dipukul mundur. Pernyataan ini disampaikan melalui akun resmi Kementerian Luar Negeri Iran di platform media sosial X. Araqchi menambahkan bahwa serangan Iran menargetkan pangkalan yang digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan serangan terhadap negaranya, serta mengklaim bahwa tindakan tersebut sesuai dengan hukum internasional.
Protes Turki dan Detail Insiden Rudal
Percakapan tersebut berlangsung setelah Turki memanggil duta besar Iran di Ankara untuk memprotes penerbangan rudal balistik yang mendekati wilayah udara Turki. Menurut sumber diplomatik Turki yang dikutip Reuters, rudal tersebut diluncurkan dari Iran dan melintasi Irak serta Suriah sebelum dihancurkan oleh aset pertahanan udara NATO. Kementerian Pertahanan Turki, seperti dilansir AFP pada Rabu, 4 Maret, menyatakan bahwa rudal telah "dihadang dan dinetralisir" oleh sistem NATO di Mediterania timur, meski tidak menyebutkan target spesifik.
Seorang pejabat Turki yang berbicara secara anonim kepada AFP mengungkapkan bahwa rudal tersebut "ditujukan ke pangkalan di Siprus Yunani tetapi melenceng dari jalurnya". Pecahan rudal yang jatuh di distrik Dortyol, Turki selatan, dekat perbatasan Suriah, telah diidentifikasi sebagai bagian dari pencegat yang digunakan untuk menetralisir ancaman di udara. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden ini.
Respons NATO dan Implikasi Regional
Juru bicara NATO Allison Hart menegaskan bahwa aliansi tersebut "berdiri teguh bersama semua sekutu, termasuk Turki", sambil mengkritik Iran karena terus melakukan serangan tanpa pandang bulu di seluruh wilayah. Pernyataan ini menggunakan nama resmi Turki dan menyoroti ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut. Insiden ini memperburuk hubungan diplomatik antara Iran dan Turki, sekaligus menggarisbawahi kompleksitas dinamika keamanan di Timur Tengah.
Dengan latar belakang ini, Iran tetap bersikeras pada haknya untuk membalas serangan, sementara Turki dan NATO meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman militer. Situasi ini berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut, mengingat sejarah konflik dan aliansi yang saling bertentangan di wilayah tersebut.
