Iran Siap Hadapi Invasi Darat AS, Peringatkan Akan Jadi Bencana Besar
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengirimkan pesan tegas kepada Amerika Serikat dan Israel di tengah eskalasi konflik yang terus berlanjut. Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News dari Teheran pada Kamis (5/3) waktu setempat, Araghchi dengan jelas menolak anggapan bahwa Iran merasa takut terhadap kemungkinan invasi darat oleh pasukan AS.
"Tidak, kami menunggu mereka," tegas Araghchi ketika ditanya tentang ketakutan tersebut. "Karena kami yakin bahwa kami dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka," tambahnya, seperti dilaporkan media Iran, Press TV, pada Jumat (6/3/2026). Pernyataan ini menegaskan keyakinan Iran dalam mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya.
Kesiapan Militer dan Komitmen Melawan Agresi
Araghchi menggarisbawahi bahwa angkatan bersenjata Iran telah mempersiapkan diri untuk setiap skenario pertempuran. Komentar ini muncul di tengah perang yang meluas melawan Iran, yang dimulai dengan agresi besar-besaran dari AS dan Israel pada Sabtu (28/2) lalu. Dia menegaskan bahwa Iran belum meminta gencatan senjata dan tetap berkomitmen penuh untuk melawan agresi tersebut.
Menlu Iran juga menyinggung perang 12 hari di bulan Juni tahun lalu, ketika Israel dan AS menargetkan fasilitas nuklir Iran. "Kami bahkan tidak meminta gencatan senjata pada saat itu," katanya. "Pada saat sebelumnya, Israel yang meminta gencatan senjata... setelah 12 hari kami melawan agresi mereka," tuturnya, menunjukkan keteguhan Iran dalam menghadapi tekanan militer.
Kecaman atas Serangan terhadap Warga Sipil
Araghchi membahas serangan AS-Israel terhadap sebuah Sekolah Dasar di Minab, Iran selatan, yang menewaskan 171 anak-anak. Ia sepenuhnya membebankan tanggung jawab atas insiden tragis ini kepada militer AS dan Israel. "Inilah yang dikatakan militer kami. Jadi, entah AS atau Israel. Apa bedanya?" tanyanya, dengan tegas mengutuk serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap warga sipil yang tidak berdosa.
Kekecewaan terhadap Negosiasi dengan AS
Menlu Iran tersebut menyatakan kekecewaan yang mendalam terhadap proses negosiasi, dengan menyebutkan pengkhianatan berulang kali oleh pemerintahan AS saat ini. "Faktanya adalah kami tidak memiliki pengalaman positif dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat... terutama dengan pemerintahan ini," kata Araghchi.
Ia menjelaskan bahwa Iran telah bernegosiasi dua kali tahun lalu dan tahun ini, namun di tengah proses tersebut, AS justru menyerang Iran. "Kami bernegosiasi dua kali tahun lalu dan tahun ini, dan kemudian di tengah negosiasi, mereka menyerang kami," cetusnya. Araghchi menambahkan bahwa tidak ada alasan bagi Iran untuk kembali terlibat dengan pihak-pihak yang bernegosiasi dengan itikad buruk, menegaskan perlunya pendekatan yang lebih tegas dalam diplomasi internasional.
