Intelijen AS Ungkap Rezim Iran Tetap Kuat Meski Dibombardir AS-Israel
Intelijen AS: Rezim Iran Kuat Meski Dibombardir

Intelijen AS Ungkap Rezim Iran Tetap Kuat Meski Dibombardir AS-Israel

Laporan intelijen Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kepemimpinan Iran sebagian besar masih utuh dan tidak berisiko untuk tumbang dalam waktu dekat, setelah hampir dua minggu dibombardir tanpa henti oleh AS dan Israel. Hal ini diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut, berdasarkan laporan dari kantor berita Reuters dan Al Arabiya pada Kamis, 12 Maret 2026.

Laporan intelijen itu memberikan "analisis yang konsisten bahwa rezim tersebut tidak dalam bahaya untuk kolaps dan tetap mengendalikan publik Iran," kata salah satu sumber. Analisis terbaru ini diselesaikan dalam beberapa hari terakhir, menambah kompleksitas situasi geopolitik di Timur Tengah.

Respons Iran dan Dampak Global

Di sisi lain, Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menjanjikan pembalasan tanpa henti atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang terus berlanjut. Dalam pernyataan pada Rabu, 11 Maret, mereka bersumpah untuk "membuka pintu api bagi mereka dan tidak akan berhenti sampai musuh dikalahkan." Serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari disebut melanggar hukum internasional dan telah menyebabkan korban jiwa, termasuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei serta pejabat senior dan warga sipil Iran.

Dampak perang ini juga dirasakan di negara lain. Pemerintah Malaysia, misalnya, mengambil langkah penghematan dengan mengumumkan tidak akan mengadakan acara open house untuk Hari Raya Idul Fitri dan mengurangi perjalanan ke luar negeri. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan ini sebagai langkah hati-hati untuk membelanjakan dana secara bijaksana, mengingat potensi dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah.

Serangan di Kawasan dan Respons PBB

Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas dengan serangan terhadap dua kapal tanker minyak di dekat Irak, yang menewaskan sedikitnya satu awak kapal. Farhan Al-Fartousi dari Perusahaan Umum Pelabuhan Irak melaporkan bahwa satu orang tewas dan 38 diselamatkan, sementara pencarian untuk yang hilang masih berlangsung. Kewarganegaraan awak kapal dan pelaku serangan belum diungkap.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) merespons dengan mengesahkan resolusi yang menyerukan Iran untuk segera menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Resolusi yang disahkan pada Rabu, 11 Maret, dengan 13 negara setuju dan dua abstain, menegaskan bahwa serangan tersebut melanggar hukum internasional dan menimbulkan ancaman serius terhadap perdamaian global.

Dengan tekanan politik yang meningkat akibat melonjaknya biaya minyak, Presiden AS Donald Trump telah mengisyaratkan akan mengakhiri operasi militer terbesar sejak 2003 itu "segera." Situasi ini menunjukkan bahwa meski rezim Iran dinilai kuat, konflik terus berlanjut dengan konsekuensi yang meluas ke berbagai aspek internasional.