Houthi Yaman Siaga Tinggi, Ancaman Serangan AS-Israel Makin Nyata
Houthi Yaman Siaga Tinggi Hadapi Ancaman AS-Israel

Houthi Yaman Siaga Tinggi Hadapi Ancaman Serangan AS-Israel

Kelompok Houthi di Yaman saat ini berada dalam status siaga tinggi untuk menghadapi ancaman agresi yang datang dari Amerika Serikat dan Israel. Situasi ini memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah, dengan Houthi mengajak seluruh masyarakat Yaman untuk bersatu dalam menghadapi potensi serangan dari kedua negara tersebut.

Pernyataan Resmi Menteri Pertahanan Houthi

Menteri Pertahanan dalam pemerintahan yang dipimpin Houthi, Mayor Jenderal Mohammed al-Atifi, secara tegas menyatakan kesiapan pasukannya. "Siaga tinggi untuk menghadapi setiap agresi terhadap rakyat Yaman," ujarnya seperti dilansir dari Al Jazeera pada Minggu, 19 April 2026.

Al-Atifi menambahkan bahwa babak konflik terbaru dengan musuh Zionis dan Amerika telah mewujudkan persatuan front perlawanan. "Ini membuktikan efektivitas operasi militer poros jihad dan perlawanan terhadap musuh," sambungnya dengan penuh keyakinan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Keterlibatan Houthi dalam Konflik Regional

Secara resmi, Houthi telah memasuki perang antara AS-Israel melawan Iran sejak akhir Maret 2026. Kelompok milisi ini sebelumnya telah meluncurkan beberapa serangan militer yang signifikan, termasuk:

  • Rudal balistik jarak jauh yang ditargetkan ke Israel
  • Serangan drone yang menandai front baru dalam konflik regional
  • Ancaman terhadap lalu lintas maritim di Laut Merah

Houthi bersumpah akan melanjutkan serangan mereka sampai perang benar-benar berhenti. Mereka berencana menggunakan persenjataan yang dimiliki untuk menyerang situs militer sensitif dan mengganggu aktivitas pelayaran di wilayah strategis tersebut.

Ancaman Penutupan Selat Bab al-Mandeb

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri pemerintah Houthi, Hussein al-Ezzi, telah mengeluarkan peringatan keras mengenai kemungkinan penutupan Selat Bab al-Mandeb. Selat yang terletak di lepas pantai Yaman ini merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan global.

Dalam pernyataannya di platform media sosial X, al-Ezzi menegaskan bahwa penutupan selat tersebut dapat dilakukan jika Presiden AS Donald Trump terus menghalangi proses perdamaian. "Jika Sanaa memutuskan untuk menutup Bab al-Mandeb, maka seluruh umat manusia dan jin akan benar-benar tidak berdaya untuk membukanya," tulisnya dengan nada tegas.

Al-Ezzi melanjutkan dengan pesan diplomatis, "Oleh karena itu, yang terbaik bagi Trump—dan dunia yang terlibat—adalah segera mengakhiri semua praktik dan kebijakan yang menghalangi perdamaian, dan menunjukkan rasa hormat yang diperlukan untuk hak-hak rakyat dan bangsa kita."

Implikasi Strategis dan Keamanan Regional

Ancaman penutupan Selat Bab al-Mandeb memiliki implikasi serius bagi keamanan maritim dan stabilitas ekonomi global. Selat ini merupakan salah satu choke point terpenting di dunia, dengan sekitar 4,8 juta barel minyak mentah melewatinya setiap hari.

  1. Potensi gangguan pasokan energi global
  2. Peningkatan ketegangan di jalur pelayaran internasional
  3. Eskalasi konflik yang dapat melibatkan lebih banyak pihak
  4. Dampak terhadap ekonomi negara-negara yang bergantung pada jalur ini

Situasi ini semakin memperumit dinamika konflik di Timur Tengah, dengan Houthi menunjukkan kemampuan militer yang terus berkembang dan kemauan politik yang kuat untuk menghadapi tekanan dari kekuatan internasional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga