Global Peace Convoi Indonesia Akan Mulai Bergerak via Laut dan Darat untuk Bantu Palestina
Global Peace Convoi Indonesia (GPCI), sebuah forum yang terdiri dari berbagai organisasi non-pemerintah (NGO), telah mengumumkan rencana pergerakan besar-besaran untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Palestina di Gaza. Dalam kolaborasi strategis dengan Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah koalisi masyarakat sipil internasional, GPCI akan melaksanakan konvoi melalui dua jalur utama: laut dan darat. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk mendobrak blokade yang telah lama membatasi akses bantuan ke Gaza, sekaligus memperjuangkan hak-hak saudara di Palestina yang terus terdampak konflik berkepanjangan.
Perubahan Jadwal dan Rencana Konvoi Laut
Koordinator GPCI, Dr. Maimon Herawati, mengungkapkan bahwa tanggal pelaksanaan pergerakan telah mengalami perubahan. Awalnya dijadwalkan pada 29 Maret 2026, kini konvoi akan dimulai pada 12 April 2026 karena pertimbangan situasi terkini. Dalam konvoi laut, GSF berencana mengirimkan 100 hingga 150 kapal yang akan menuju blokade Gaza. Kapal-kapal ini tidak hanya mengangkut relawan, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas penting seperti Floating Hospital yang membawa sekitar 500 tenaga medis untuk memperkuat layanan kesehatan internasional di wilayah tersebut.
Selain itu, kapal dari Greenpeace akan membawa Eco Builder yang cukup untuk menampung sekitar 500 orang, serta satu kapal khusus yang mengangkut Knockdown School beserta para guru dari negara-negara Arab. Dr. Maimon menekankan bahwa pencapaian ini tidak akan mudah, mengingat kemungkinan hambatan dari pemerintah Mesir yang memerlukan koordinasi dengan Bulan Sabit Merah untuk memperbolehkan kapal-kapal tersebut melintas.
Partisipan dan Pendampingan Sipil
Jumlah partisipan dalam konvoi ini diperkirakan sangat besar. Untuk konvoi laut, direncanakan lebih dari 3.000 orang akan terlibat, sementara konvoi darat diharapkan melibatkan lebih banyak peserta karena berasal dari berbagai negara dengan rute yang tersebar. Partisipan GSF 2.0 tahun ini akan mencakup lebih dari 100 negara, dengan beragam profesi seperti dokter, perawat, kapten kapal, teknisi, jurnalis, dan relawan umum. Setiap negara awalnya dibatasi untuk mengirimkan 10 relawan umum, namun GPCI berupaya melakukan negosiasi untuk menambah jumlah tersebut, terutama untuk profesi seperti jurnalis dan tenaga medis.
GSF juga menyediakan pendampingan sipil atau human shield yang anggotanya merupakan warga negara asing yang siap melindungi masyarakat Palestina. Warga Indonesia tidak termasuk dalam kelompok ini karena kekhawatiran akan menjadi target berikutnya. Seleksi partisipan akan melalui tiga tahap: registrasi global melalui website, seleksi nasional oleh GPCI, dan seleksi oleh Steering Committee Global.
Rute dan Bantuan yang Diberikan
Konvoi darat akan melibatkan rute dari berbagai negara, seperti Rusia yang bergerak ke bawah, Pakistan yang dilanjutkan ke Iran dan Turki, serta Sumut ke arah Al-Jazeera. Sementara itu, konvoi laut akan dimulai dari Labuan Bajo, Indonesia, dengan perhentian di Lombok, Surabaya, Jakarta, Bangka Belitung, dan Dumai sebagai titik kumpul di Sumatera sebelum menyeberang ke Malaysia. Di Malaysia, konvoi akan bergabung dengan Sumud Nusantara dan melanjutkan perjalanan melalui jalur laut dan darat.
Indonesia berencana menurunkan 100 truk bantuan dalam konvoi darat, dengan syarat truk tersebut tetap dalam penguasaan Indonesia saat melintasi Rafah. Untuk konvoi laut, direncanakan 250 kapal akan digunakan, dengan kemungkinan penambahan berdasarkan diskusi terakhir pada 3 Maret di Tunisia. Kapal yang akan dibeli adalah Phinisi Florence dengan lebar 4,27 meter dan panjang 15 meter, seharga Rp 3,6 miliar, yang rencananya dibeli patungan dengan Malaysia. Namun, GPCI berupaya agar kapal tersebut dibeli sepenuhnya oleh Indonesia untuk meningkatkan kuota penumpang.
Dukungan Hukum dan Politik
Selain bantuan kemanusiaan, GPCI dan GSF juga fokus pada aspek hukum dan politik. Dua tim legal akan dikirim ke Gaza: Tim Research untuk mendokumentasikan pelanggaran HAM, dan Tim Khusus Tanah untuk memeriksa kualitas tanah setelah bombardir. Hague Group, yang terdiri dari negara-negara seperti Belize, Bolivia, dan Malaysia, akan berkumpul di Brussels untuk melakukan penekanan politik terhadap situasi di Gaza, termasuk rencana membawa Israel ke International Court of Justice (ICJ).
Dr. Maimon Herawati menegaskan komitmen Indonesia dalam solidaritas ini: "Kepada bangsa Palestina, saya berbicara atas nama bangsa Indonesia. Kami tidak akan membiarkan teman-teman sendiri, kami akan selalu bersama dengan teman-teman sampai Palestina merdeka, InsyaAllah." Gerakan ini diharapkan menjadi aksi solidaritas yang masif, tidak hanya memberikan bantuan langsung tetapi juga meningkatkan kesadaran global tentang kondisi kemanusiaan di Palestina.



