Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras serangan pasukan Israel terhadap armada kapal Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Erdogan menyebut tindakan Israel itu sebagai "pembajakan dan perampokan" dalam pernyataan resminya, Selasa (19/5/2026).
Erdogan Mengecam Tindakan Israel
Dalam pernyataan yang dilansir TRT World, Erdogan menyerukan komunitas internasional untuk merespons apa yang disebutnya sebagai "tindakan melanggar hukum" oleh Israel. Berbicara setelah rapat kabinet di Ankara, ia menegaskan bahwa pencegatan dan serangan terhadap misi kemanusiaan itu tidak akan melemahkan solidaritas global dengan Palestina atau upaya menegakkan keadilan bagi Gaza.
"Kami mengutuk pembajakan dan perampokan Israel dengan sekeras-kerasnya," ujar Erdogan, seraya menyebut bahwa armada Global Sumud Flotilla didukung oleh para aktivis dari sekitar 40 negara.
Seruan untuk Tindakan Internasional
Erdogan mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah konkret terhadap tindakan Israel dan menuduh Tel Aviv terus melanggar hukum internasional melalui blokade dan serangan terhadap Gaza. Kecaman serupa disampaikan Kementerian Luar Negeri Turki, yang menyebut intervensi Israel sebagai "aksi pembajakan baru".
"Kami mengutuk intervensi yang dilakukan oleh pasukan Israel di perairan internasional terhadap Global Sumud Flotilla, yang dibentuk untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan yang merupakan aksi pembajakan baru," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.
Upaya Turki Melindungi Warganya
Kementerian Luar Negeri Turki menambahkan bahwa otoritas Ankara mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kepulangan dengan selamat semua warga negara Turki yang ikut dalam armada kemanusiaan tersebut. Misi Global Sumud Flotilla melaporkan puluhan kapalnya dicegat dan diserang oleh pasukan Israel di perairan internasional, dekat Siprus. Kapal-kapal itu sedang menjalankan misi terbaru untuk menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza, sembari membawa bantuan kemanusiaan.
Detail Armada dan Peserta
Armada tersebut terdiri atas lebih dari 50 kapal yang berlayar sejak Kamis (14/5) pekan lalu dari distrik Marmaris di perairan Mediterania di Turki. Tim manajemen krisis armada kemanusiaan itu mengonfirmasi bahwa tentara Israel menyerang dan menaiki beberapa kapal, dengan kontak terputus untuk 23 kapal di antaranya. Misi tersebut melibatkan total 426 peserta dari 40 negara, termasuk Jerman, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Bahrain, Brasil, Aljazair, Maroko, Prancis, Afrika Selatan, Inggris, Irlandia, Spanyol, Italia, Kanada, Mesir, Pakistan, Tunisia, Oman, Selandia Baru, dan Indonesia.
Penangkapan Aktivis
Laporan kantor berita Turki, Anadolu Agency, menyebut terdapat 96 aktivis asal Turki dalam misi tersebut. Siaran langsung dari kapal-kapal Global Sumud Flotilla menunjukkan momen pasukan Angkatan Laut Israel menyerang dan menaiki kapal satu demi satu. Laporan situs berita Israel, Walla, menyebut pasukan Israel sejauh ini telah menahan sekitar 100 aktivis dari misi kemanusiaan tersebut. Lima aktivis di antaranya disebut sebagai warga negara Indonesia (WNI), dengan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengonfirmasi penangkapan para WNI oleh Israel.



