Insiden Baku Tembak di Perairan Kuba: 4 Tewas, Diduga Terkait Agenda Teror
Petugas perbatasan Kuba menghentikan sebuah kapal cepat yang memasuki perairan teritorial negara itu dan terjadi baku tembak yang menewaskan empat orang serta melukai enam lainnya. Kapal tersebut terdaftar di negara bagian Florida, Amerika Serikat, dan insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara Washington dan Havana.
Kronologi Insiden dan Temuan Senjata
Kapal cepat itu terlihat pada Rabu pagi (25/2) waktu setempat di perairan dekat Cayo Falcones, mendekat hingga sekitar satu mil laut dari provinsi Villa Clara. Ketika unit patroli perbatasan Kuba mendekati untuk mengidentifikasi, awak kapal melepaskan tembakan ke arah komandan kapal patroli.
Menurut laporan resmi Kementerian Dalam Negeri Kuba, semua yang terlibat adalah warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat. Pemerintah Kuba menyatakan bahwa penumpang kapal memiliki agenda teror dan berencana memasuki negara itu secara ilegal. Dalam kapal, ditemukan senjata, bahan peledak, dan seragam kamuflase. Kesepuluh penumpang juga diketahui memiliki riwayat aktivitas kriminal dan kekerasan.
Identifikasi Penumpang dan Tuduhan Terorisme
Pemerintah Kuba mengidentifikasi tiga penumpang sebagai Amijail Sánchez González, Leordan Enrique Cruz Gómez, dan Conrado Galindo Sariol. Amijail dan Leordan sebelumnya menjadi buron pihak berwenang Kuba karena diduga terlibat dalam promosi, perencanaan, atau pelaksanaan tindakan terorisme. Conrado Galindo Sariol, yang disebut situs berita Martí Noticia sebagai "legenda" dan mantan tahanan politik, sering mendukung perjuangan warga Kuba untuk kebebasan.
Dalam wawancara Juni 2025, Conrado menyebut pemimpin rezim Kuba berusaha meredam situasi yang memburuk. Selain itu, pemerintah Kuba menangkap Duniel Hernández Santos, yang diduga menyiapkan masuknya kelompok teroris ini. Duniel dikirim dari Amerika Serikat untuk menjamin penerimaan infiltrasi bersenjata, menurut pernyataan resmi yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Korban Tewas dan Reaksi Keluarga
Salah satu korban tewas yang berhasil diidentifikasi adalah Michel Ortega Casanova. Kakaknya, Misael Ortega Casanova, mengatakan kepada kantor berita AP bahwa dirinya berduka atas kematian saudaranya dan menyesalkan sang kakak terjebak dalam upaya "obsesif dan brutal" untuk kebebasan Kuba.
Misael menyatakan bahwa hanya orang Kuba yang tinggal di Kuba yang mengerti penderitaan besar yang dialami. Michel adalah sopir truk dan warga negara Amerika Serikat yang telah tinggal lebih dari 20 tahun di AS, meninggalkan keluarganya termasuk seorang putri yang sedang mengandung. Misael berharap kematian saudaranya menjadi pengorbanan yang bermakna untuk mewujudkan Kuba merdeka suatu hari.
Reaksi Pemerintah Amerika Serikat dan Investigasi
Di Washington, pejabat pemerintah bereaksi dengan hati-hati. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Gedung Putih sedang menyelidiki insiden tersebut dan berharap tidak seburuk yang dikhawatirkan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut insiden ini "sangat tidak biasa" dan menekankan bahwa berbagai bagian pemerintah AS sedang mengumpulkan dan memverifikasi informasi sebelum berspekulasi.
Kedutaan Besar AS di Havana berupaya menentukan apakah korban adalah warga negara AS atau penduduk tetap. Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, mengumumkan penyelidikan bersama dengan otoritas federal, menyatakan pemerintah Kuba tidak dapat dipercaya dan akan meminta pertanggungjawaban.
Latar Belakang Ketegangan dan Kebijakan Energi
Insiden ini terjadi setelah Amerika Serikat melonggarkan embargo minyak terhadap Kuba. Di bawah Presiden Donald Trump, AS meningkatkan tekanan pada kepemimpinan komunis Kuba, termasuk memblokade kapal tanker minyak dari Venezuela yang memperburuk krisis energi di pulau itu. Baru-baru ini, pemerintah AS mengumumkan akan kembali mengizinkan penjualan minyak Venezuela kepada penduduk Kuba dan sektor swasta untuk tujuan komersial dan kemanusiaan.
Pemerintah Kuba menolak tuduhan dari AS dan menegaskan hak untuk membela negara, dengan menyatakan komitmennya melindungi perairan teritorial sebagai pilar fundamental kedaulatan. Rubio menuntut reformasi kepemimpinan di Havana, menekankan bahwa Kuba harus berubah secara mendasar untuk meningkatkan kualitas hidup rakyatnya.
Investigasi masih berlangsung untuk mengetahui motif pasti pelaku, dengan Kuba terletak hanya sekitar 145 kilometer dari ujung selatan Florida, memperumit dinamika hubungan bilateral antara kedua negara.



