Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Amerika Serikat harus menerima proposal perdamaian terbaru dari Teheran atau bersiap menghadapi kegagalan dalam upaya mengakhiri perang di Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (12/5/2026), setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa gencatan senjata dalam perang di Timur Tengah berada di ambang kehancuran.
Latar Belakang Konflik
Perang yang telah berlangsung lebih dari dua bulan ini dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran. Konflik kemudian meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah dan mengguncang ekonomi global. Meskipun gencatan senjata sempat berlaku selama lebih dari satu bulan, situasi kini kembali memanas.
Dampak Ekonomi Global
Konflik ini telah menyebabkan kelumpuhan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dunia. Arab Saudi bahkan menyebut bahwa krisis minyak bisa berlanjut hingga tahun 2027. Ketidakstabilan ini telah mempengaruhi harga minyak global dan menimbulkan kekhawatiran akan resesi ekonomi di berbagai negara.
Ghalibaf menekankan bahwa proposal perdamaian Iran adalah solusi terbaik untuk mengakhiri pertumpahan darah dan mengembalikan stabilitas kawasan. Ia juga memperingatkan bahwa jika AS menolak proposal tersebut, maka tanggung jawab atas kegagalan perdamaian akan sepenuhnya berada di tangan Washington.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk segera mengakhiri konflik. Beberapa negara telah menyerukan dialog dan negosiasi sebagai jalan keluar, namun hingga saat ini belum ada titik terang yang signifikan.
Dengan situasi yang semakin genting, dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak. Apakah AS akan menerima proposal damai Iran atau justru memperburuk keadaan dengan melanjutkan konflik? Semua mata tertuju pada keputusan yang akan diambil dalam waktu dekat.



