Ketegangan Timur Tengah, AS Evakuasi Staf Non-Darurat Kedubes di Beirut
AS Evakuasi Staf Kedubes di Beirut Akibat Ketegangan

Ketegangan Timur Tengah Memanas, AS Lakukan Evakuasi Staf Diplomatik di Lebanon

Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah mengambil langkah tegas dengan mengevakuasi puluhan personel non-darurat dari Kedutaan Besarnya di Beirut, Lebanon. Tindakan evakuasi yang dilaksanakan pada Senin (23/2/2026) waktu setempat ini merupakan respons langsung terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama menyusul ancaman militer Presiden Donald Trump terhadap Iran.

Langkah Sementara untuk Jaminan Keselamatan Personel

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang tidak disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa evakuasi ini bersifat "sementara" dan ditujukan untuk memastikan keselamatan personel diplomatik beserta anggota keluarga mereka yang memenuhi syarat. "Ini merupakan langkah sementara yang dimaksudkan untuk memastikan keselamatan personel kami, sembari mempertahankan kemampuan kami untuk beroperasi dan membantu warga negara AS," jelas pejabat tersebut seperti dilaporkan oleh Anadolu Agency dan AFP.

Menurut sumber keamanan Lebanon yang berbicara kepada AFP, sekitar 40 personel Kedutaan Besar AS telah meninggalkan Lebanon melalui Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut. Evakuasi ini khusus berlaku untuk staf non-darurat, sementara Kedutaan Besar AS di Beirut akan tetap buka dan beroperasi dengan staf inti. "Kami terus menilai situasi keamanan, dan berdasarkan peninjauan terbaru, kami memutuskan bahwa akan bijaksana untuk mengurangi jumlah personel kami menjadi hanya para personel penting," tambah pejabat AS tersebut.

Pembatasan Perjalanan dan Ancaman Trump terhadap Iran

Dalam pernyataan resmi melalui media sosial X, Kedutaan Besar AS mengumumkan bahwa personelnya di Lebanon "dilarang melakukan perjalanan pribadi tanpa izin terlebih dahulu". Pernyataan itu juga memperingatkan bahwa pembatasan perjalanan tambahan dapat diberlakukan dengan sedikit atau tanpa pemberitahuan karena meningkatnya masalah keamanan.

Langkah evakuasi ini tidak terlepas dari ancaman Presiden Donald Trump yang akan menyerang Iran jika negara tersebut tidak mencapai kesepakatan mengenai isu-isu utama, terutama program nuklirnya. Trump telah memerintahkan pengerahan aset militer AS secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.

Ancaman tersebut dilontarkan tepat saat perundingan nuklir antara Washington dan Teheran kembali digelar, dengan putaran terbaru dijadwalkan pada Kamis (26/2) mendatang di Jenewa, Swiss. Pemerintah Iran menyatakan kesiapannya untuk pembicaraan terbaru dengan AS sebagai upaya diplomasi terakhir, meskipun ketegangan terus meningkat.

Operasional Kedutaan Tetap Berjalan

Meskipun dilakukan evakuasi, pejabat senior AS menegaskan bahwa Kedutaan Besar AS di Beirut akan tetap beroperasi dengan para staf inti. "Kedutaan Besar tetap beroperasi dengan para staf inti," tegasnya. Hal ini menunjukkan komitmen AS untuk mempertahankan kehadiran diplomatiknya di Lebanon, meski dalam kondisi yang lebih terbatas.

Situasi ini mencerminkan dinamika kompleks di Timur Tengah, di mana hubungan AS-Iran yang memanas berdampak langsung pada stabilitas kawasan, termasuk Lebanon yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok Syiah Hizbullah yang didukung Iran. Evakuasi staf non-darurat ini menjadi indikator nyata bagaimana ketegangan geopolitik dapat memengaruhi operasional diplomatik dan keselamatan personel di lapangan.