WFH Dinilai Sebagai Opsi Penghematan Energi Hadapi Konflik Timur Tengah
Wacana kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) dinilai dapat menjadi salah satu opsi strategis untuk penghematan energi. Hal ini muncul menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi stabilitas harga energi global.
Perhitungan Matang Diperlukan
Kendati demikian, Dosen dan Peneliti di Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), A.G. Subarsono, menekankan bahwa efektivitas kebijakan WFH tersebut perlu dihitung secara matang. Menurutnya, penyusunan skenario kebijakan menjadi sangat penting guna menghadapi dampak konflik Timur Tengah yang mungkin terjadi.
"Kalau pemerintah mengakui bahwa konflik di Timur Tengah akan mempengaruhi harga energi global yang bisa berdampak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka sebaiknya pemerintah membuat roadmap dan skenario untuk mengatasinya," kata Subarsono dalam keterangannya.
Pentingnya Skenario Kebijakan
Subarsono menjelaskan bahwa tanpa perencanaan yang baik, kebijakan WFH mungkin tidak mencapai tujuan penghematan energi secara optimal. Ia menyarankan beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan:
- Analisis mendalam terhadap potensi pengurangan konsumsi energi dari sektor transportasi dan perkantoran.
- Evaluasi dampak ekonomi dan sosial dari penerapan WFH jangka panjang.
- Koordinasi antar kementerian dan lembaga untuk menyusun regulasi yang mendukung.
- Pemantauan berkelanjutan terhadap efektivitas kebijakan yang diterapkan.
Dengan konflik Timur Tengah yang terus berkembang, Subarsono menegaskan bahwa antisipasi dini melalui kebijakan yang terukur seperti WFH dapat membantu mengurangi tekanan pada APBN. Namun, semua itu harus didukung oleh data dan kajian yang komprehensif sebelum diimplementasikan secara luas.



