Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa setiap calon pemimpin daerah maupun birokrat harus memiliki tiga fondasi utama kepemimpinan, yaitu ideologi, strategi, dan taktik. Ketiga aspek tersebut dinilai krusial agar pemimpin mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai kebenaran dan kepentingan masyarakat, bukan semata-mata didasari oleh pertimbangan popularitas atau kepentingan sesaat.
Pesan Wamendagri di Kampus IPDN Papua
Hal ini disampaikan Bima Arya saat kegiatan Bedah Buku Babad Alas di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Papua, Jayapura, Senin (22/6/2026). "Bagi kalian yang hari ini punya bayangan dan cita-cita memiliki posisi strategis entah apa pun itu, harus punya nilai dan pegangan agar tidak mudah dibeli oleh kepentingan transaksional," ujar Bima dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).
Ideologi sebagai Kompas, Strategi sebagai Penerjemah
Bima menjelaskan ideologi berfungsi sebagai kompas yang menentukan arah kebijakan. Namun, nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan melalui strategi yang tepat agar diwujudkan menjadi program yang menyentuh kebutuhan warga. Menurutnya, strategi yang baik terbukti mampu mendorong kemajuan daerah. Sebagai contoh, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bogor berhasil meningkat dari Rp 544 miliar menjadi Rp 1,45 triliun pada 2024, atau naik sebesar 167,9 persen.
Capaian Pembangunan di Bogor
Selain itu, berbagai program pembangunan juga berhasil direalisasikan, antara lain revitalisasi taman kota seluas 15 hektar dan pembangunan jalur pejalan kaki sepanjang 300 kilometer untuk meningkatkan kualitas ruang publik. Capaian ini menunjukkan bahwa strategi yang tepat dapat menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Pentingnya Taktik dan Kemampuan Eksekusi
Lebih lanjut, Bima menyoroti pentingnya taktik dan kemampuan eksekusi. Ia menilai seorang pemimpin tidak hanya cukup memiliki visi dan strategi, tetapi juga harus mampu memahami langsung persoalan masyarakat dengan turun ke lapangan. "Pemimpin itu harus terampil untuk lapangan, makanya pesan saya adalah masalah itu di lapangan bukan di belakang meja," tegasnya.
Amanah Kepemimpinan Harus Dimanfaatkan Optimal
Bima juga mengingatkan bahwa kesempatan memimpin merupakan amanah yang berharga dan tidak berlangsung selamanya. Karena itu, setiap calon pemimpin perlu mempersiapkan diri sejak dini agar mampu memanfaatkan masa pengabdian secara optimal saat kelak dipercaya memegang jabatan strategis. "Ketika kalian ada di satu posisi, maka manfaatkanlah waktu yang sangat berharga itu untuk membuat kehidupan lebih baik," tambah Bima.



