Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Stella Christie mengingatkan perguruan tinggi di Indonesia untuk tidak latah dalam membuka program studi (prodi) kecerdasan buatan (AI). Ia menekankan bahwa meskipun pemahaman mengenai AI saat ini sangat strategis, membuka jurusan AI belum tentu menjadi langkah yang tepat dan belum tentu menjamin keberlanjutan universitas itu sendiri.
Peringatan Stella Christie soal Prodi AI
Pernyataan tersebut disampaikan Stella dalam acara pembukaan Tanoto Scholar Gathering di Riau pada Kamis (23/7/2026). Ia mengingatkan bahwa detail kurikulum sangat penting. "The devil is in the detail. Tergantung dari apa yang diajarkan. Kalau hanya fad, hanya fashion, akan tergantikan," ungkap Stella.
Menurutnya, AI sendiri memunculkan pertanyaan fundamental tentang keberlanjutan kampus. Jika program studi AI hanya mengikuti tren tanpa perencanaan yang matang, dikhawatirkan lulusannya tidak akan relevan di masa depan.
Keberlanjutan Kampus Jadi Sorotan
Stella menegaskan bahwa perguruan tinggi harus berpikir jangka panjang. Membuka prodi baru, termasuk AI, membutuhkan sumber daya, tenaga pengajar kompeten, dan kurikulum yang adaptif. "Jangan sampai kita membuka prodi hanya karena sedang populer, tanpa memikirkan dampaknya terhadap kualitas pendidikan dan masa depan mahasiswa," tambahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar perguruan tinggi dan industri untuk memastikan prodi AI benar-benar menghasilkan lulusan yang siap kerja. "Kita perlu memastikan bahwa apa yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi yang cepat," ujar Stella.



