TNI Beri Hukuman Fisik ke Peserta Latsarmil Kopdes yang Tak Disiplin
TNI Beri Hukuman Fisik Peserta Latsarmil Kopdes

Pelatih dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) memberlakukan hukuman fisik kepada peserta latihan dasar militer (latsarmil) yang melanggar peraturan selama pendidikan. Salah satu contohnya adalah ketika peserta terlambat mengikuti apel pagi.

"Contoh saat apel pagi, mereka terlambat mungkin karena ketiduran dan sebagainya, kita berikan hukuman push up 10 atau 15 kali," kata Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, saat ditemui awak media di markas Marinir, Cilandak, Jakarta Timur, Kamis (25/6).

Hukuman Fisik untuk Tingkatkan Disiplin

Agus menjelaskan bahwa hukuman fisik itu diberlakukan agar para peserta memiliki jiwa disiplin yang tinggi serta taat akan peraturan. Hukuman tersebut juga diharapkan dapat membuat peserta hidup lebih tertib. Tidak hanya karena telat mengikuti apel, para peserta juga akan menerima hukuman jika tidak mengikuti makan bersama.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut Agus, hal tersebut harus dilakukan karena makan merupakan aktivitas yang wajib dilakukan demi menjaga kesehatan fisik peserta. "Kita juga lakukan hukuman secara kolektif, contohnya tidak makan. Karena makan adalah untuk meningkatkan kemampuan kita, kalau tidak makan atau tidak bersama-sama yang lain, kita kasih hukuman supaya besok tidak mengulang lagi," kata dia.

Hukuman Disesuaikan dengan Kemampuan Peserta

Agus menekankan bahwa hukuman yang diberikan kepada para peserta tidak disamakan dengan standar prajurit, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan fisik peserta. Selain hukuman, pihaknya juga tidak segan memberikan reward atau penghargaan bagi peserta yang berprestasi selama pendidikan. Hal tersebut dilakukan agar peserta termotivasi dan terus semangat dalam menjalani program latsarmil.

Hingga saat ini, lanjut Agus, seluruh rangkaian pendidikan latsarmil masih berjalan dengan aman dan kondusif. Dia berharap proses pendidikan kali ini bisa selesai dengan baik dan seluruh peserta mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk diterapkan ketika mengelola Koperasi Desa Merah Putih.

Penanganan Peserta Sakit

Selain itu, dia menerangkan bahwa peserta yang memiliki riwayat masalah kesehatan tidak diikutsertakan dalam latihan fisik. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan para peserta latsarmil tetap dalam kondisi sehat dan tetap bisa mengikuti materi pendidikan.

"Yang memiliki riwayat kronis atau sakit berat kita pisahkan sampai dengan tingkat peleton dan kompi. Supaya kegiatan-kegiatan di lapangan yang berkaitan dengan fisik tidak kita ikutkan," kata Agus. Agus mengatakan pihaknya mendapatkan data riwayat kondisi fisik peserta dari hasil pemeriksaan kesehatan mereka sebelum mengikuti latsarmil.

Setelah kondisi kesehatan masing-masing peserta dipelajari dan dipisahkan, para pelatih akan mengarahkan peserta yang punya riwayat penyakit untuk mengikuti materi di dalam kelas. Untuk kegiatan di luar kelas, kata Agus, para peserta latsarmil menjalankan beberapa kegiatan mulai dari apel pagi hingga latihan peraturan baris berbaris (PBB). Bahkan para peserta juga mengikuti latihan menembak dengan senjata yang telah disiapkan personel Marinir.

"Termasuk nanti di minggu ketiga kita akan melatih menembak perorangan di lapangan yang sudah kita siapkan. Jadi mereka punya dasar-dasar militer yang sekiranya bisa buat bekal dalam menuju penugasan berikutnya," kata Agus.

Sebanyak 674 peserta latsarmil dari SPPI mengikuti pendidikan selama satu setengah bulan di markas Pasmar I Cilandak, Jakarta. Para peserta itu terbagi menjadi empat kompi di mana setiap kompi berisi enam. Selama di markas Korps Marinir, mereka mengikuti ragam pendidikan latihan dasar militer yang bertujuan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme dan sikap disiplin dalam bekerja.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga