Pemerintah akan melibatkan mahasiswa dan perguruan tinggi secara resmi dalam aspek pengawasan distribusi logistik dan edukasi gizi di lapangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini disampaikan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman setelah mendengarkan kritik dari mahasiswa Universitas Brawijaya (UB).
Kritik Mahasiswa dan Respons Pemerintah
Dalam diskusi tersebut, Dudung mendengarkan kritik konstruktif berbasis data lapangan dari mahasiswa bernama Farhan Fariz Rizqullah. Farhan menilai bahwa sasaran penerima MBG belum presisi. Ia mengusulkan agar pemerintah melibatkan kalangan akademisi perguruan tinggi untuk memberikan pendampingan teknis dan meminta alokasi anggaran difokuskan secara masif pada daerah dengan tingkat kerentanan gizi serta stunting tinggi, terutama balita dan anak SD.
Dudung membenarkan adanya temuan disparitas kualitas implementasi antardaerah, termasuk kasus makanan tidak habis dikonsumsi anak-anak. Ia menyatakan, "Hal-hal seperti ini akan ditata ulang agar program benar-benar mencapai tujuannya, yaitu memastikan penerima manfaat memperoleh makanan yang bergizi, layak, dan benar-benar dikonsumsi."
Tiga Pilar Penataan Ulang MBG
Pemerintah menetapkan tiga pilar penataan ulang MBG ke depan. Pertama, standardisasi baku mutu gizi menu. Kedua, kelayakan komoditas bahan pangan. Ketiga, ketepatan sasaran makro dengan memprioritaskan wilayah kerentanan gizi tinggi serta wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Regenerasi Petani dan Modernisasi Teknologi
Mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, Naufal Syahfahlevie Samosir, menyoroti aspek regenerasi petani. Ia memaparkan bahwa mencetak seorang petani mandiri, adaptif, dan tangguh memerlukan investasi waktu 10 hingga 12 tahun. Menurutnya, pembangunan infrastruktur fisik dan teknologi pertanian akan sia-sia tanpa strategi makro jangka panjang untuk menarik minat generasi muda dan memotong stigma negatif profesi petani.
Dudung meluruskan perbedaan antara swasembada pangan dan swasembada beras. Ia menjelaskan bahwa cadangan beras di Bulog bukan indikator tunggal swasembada, melainkan instrumen intervensi darurat. Mengenai regenerasi, Dudung membenarkan bahwa mayoritas petani Indonesia berusia di atas 40 tahun dan menegaskan modernisasi teknologi adalah kunci utama agar sektor agraria kembali menarik bagi generasi muda.
Jurang antara Riset dan Industri
Mahasiswa ketiga, Muhammad Ziyad Husaini dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, menyoroti kesenjangan antara riset akademik berkualitas tinggi dengan komersialisasi di industri. Ia menuntut rencana strategis pemerintah dalam memfasilitasi permodalan, bimbingan kewirausahaan, dan pembentukan ekosistem agar inovasi mahasiswa dapat menjadi startup. Tanpa itu, Indonesia hanya akan melahirkan talenta hebat yang menjadi pekerja di korporasi besar tanpa menumbuhkan nilai tambah baru.
Dudung menganalogikan bahwa di dunia militer, ide taktis terbaik tidak akan bermakna tanpa eksekusi lapangan. Ia mengidentifikasi masalah utama nasional adalah hilirisasi sumber daya manusia. "Banyak lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi luar biasa, namun begitu lulus mereka dihadapkan pada pertanyaan, 'Saya harus ke mana?'. Saluran yang menjembatani keahlian akademik dengan dunia nyata masih terbatas," ungkapnya.
Hasil diskusi ini akan dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto untuk merumuskan formula agar investasi pendidikan tinggi bertransformasi menjadi nilai ekonomi riil.



