Pedagang Kopi Keliling Viral Tolak Penertiban Satpol PP di Kuningan
Sebuah insiden ketegangan terjadi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, ketika seorang pedagang kopi keliling menolak upaya penertiban oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Aksi emak-emak pedagang ini menjadi viral setelah rekaman videonya diunggah oleh seorang pengguna TikTok, memicu perhatian publik.
Rekaman Viral dan Sindiran Keras
Dalam rekaman yang beredar di platform TikTok, terlihat pedagang kopi keliling merekam petugas Satpol PP yang hendak menertibkan sejumlah lapak pedagang, termasuk dirinya. Si ibu pedagang tidak tinggal diam dan melontarkan sindiran bernada keras kepada petugas karena ngotot tetap ingin berjualan di lokasi yang dilarang. Meskipun situasi memanas, petugas Satpol PP memilih untuk hanya memberikan imbauan tanpa melakukan penertiban paksa, menunjukkan pendekatan humanis dalam menangani kasus ini.
Bukan Kejadian Pertama
Kasatpol PP Jakarta Selatan, Nanto, mengungkapkan bahwa ini bukanlah kejadian pertama yang melibatkan pedagang tersebut. "Ini kedua kalinya ibu itu berulah," kata Nanto kepada wartawan pada Rabu, 8 April 2026. Dia menjelaskan bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada Februari lalu, di mana pedagang kopi keliling sempat membuat video permohonan maaf setelah ditertibkan.
Namun, pada Sabtu, 4 April 2026, pedagang itu kembali mengulang aksi penolakan saat petugas melakukan penertiban di lokasi. Upaya persuasif kembali dilakukan oleh Satpol PP, termasuk kunjungan Kasatpol PP Setiabudi pada Senin berikutnya untuk memberikan pemahaman agar tidak berjualan di area yang dilarang. Sayangnya, pedagang tetap menolak dan bersikeras bertahan. "Sudah diberikan pemahaman, tapi tetap tidak terima dan ngotot," ujar Nanto.
Pendekatan Humanis Satpol PP
Meskipun penolakan terus terjadi, petugas Satpol PP memilih untuk tidak melakukan tindakan penertiban paksa. Nanto menegaskan, "Jadi kita imbau dan halau secara humanis tanpa ada penertiban." Pendekatan ini mencerminkan upaya untuk menjaga ketertiban tanpa mengesampingkan aspek kemanusiaan, meski pedagang telah berulang kali melanggar aturan.
Insiden ini menyoroti tantangan dalam penertiban pedagang kaki lima di Jakarta, di mana konflik antara kepatuhan hukum dan kebutuhan ekonomi seringkali menimbulkan ketegangan. Viralnya aksi pedagang kopi keliling ini juga mengundang perdebatan publik mengenai efektivitas penertiban dan perlunya solusi berkelanjutan untuk masalah pedagang informal di ibu kota.



