Pukul 06.00 WIB, Mutiara Dayuanti (28) sudah mulai bersiap. Dengan seragam khaki khas Aparatur Sipil Negara (ASN) yang rapi, ia duduk di kursi rodanya. Perlahan, ia menata perlengkapan kerja: laptop, buku catatan, dan botol minum. Semua ia lakukan sendiri, tanpa bantuan. Tas punggung kecil ia gantung di belakang kursi, sementara barang-barang kecil disimpan di kantong samping. Langkah ini merupakan rutinitas harian yang dijalaninya dengan penuh semangat.
Perjuangan Mandiri Sejak Pagi
Setiap hari, Mutiara memastikan persiapannya berjalan lancar. Dari merapikan seragam hingga memeriksa kelengkapan dokumen, ia tidak ingin merepotkan orang lain. Meskipun menggunakan kursi roda, ia berusaha melakukan sebanyak mungkin aktivitas secara mandiri. Kursi roda hitamnya sudah menjadi bagian dari keseharian, dan ia sudah terbiasa dengan mobilitas terbatas. Namun, ada satu hal yang selalu tetap ada: kehadiran sang ibu, Dewi Bayu Damayanti (50), yang akrab dipanggil Maya.
Dukungan Sang Ibu yang Tak Tergantikan
Maya sudah menunggu di dekat bagasi mobil sejak Mutiara selesai bersiap. Begitu Mutiara berhasil berpindah dari kursi roda ke kursi penumpang depan, Maya segera mengambil alih kursi roda hitam itu. Dengan cekatan, ia melipat kursi roda dan menatanya rapi di bagasi, lalu menutup pintu mobil. Proses ini berlangsung setiap pagi, sebagai bentuk dukungan penuh seorang ibu terhadap anaknya yang tetap bersemangat bekerja sebagai ASN. Bagi Maya, membantu Mutiara bukanlah beban, melainkan kebanggaan melihat anaknya tetap produktif dan mandiri.
Semangat Bekerja Tanpa Batas
Mutiara adalah salah satu dari banyak penyandang disabilitas yang berhasil menjadi ASN. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi dedikasi dan profesionalisme. Setiap hari, ia pergi ke kantor dengan tekad yang sama: memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Meskipun ada tantangan aksesibilitas di beberapa tempat, Mutiara selalu mencari solusi. Ia juga aktif menginspirasi teman-teman sesama penyandang disabilitas untuk tidak menyerah dalam meraih cita-cita. Rutinitas pagi yang dijalaninya bersama sang ibu adalah cerminan dari perjuangan dan cinta yang tak tergantikan.
Pagi itu, Senin (6/7/2026), Mutiara kembali memulai harinya. Dengan senyum, ia melambaikan tangan pada ibunya sebelum mobil melaju. Semangatnya adalah bukti bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi, apa pun keadaannya.



