Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meluruskan narasi yang beredar terkait Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, yang sempat viral. Tito menegaskan pemerintah tidak tinggal diam dalam menangani kerusakan jembatan tersebut dan membantah anggapan bahwa warga membangun jembatan sendiri.
Klarifikasi Mendagri Soal Jembatan Enang-Enang
“Persoalannya bukannya tidak ditangani. Ada dua narasi yang kurang pas. Narasi pertama bahwa pemerintah nggak memperhatikan. Narasi kedua, masyarakat membangun jembatan sendiri,” kata Tito dalam konferensi pers di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).
Menurut Tito, setelah meninjau langsung ke lokasi, ia mendapati jembatan lama sebenarnya tidak roboh. Struktur baja jembatan masih utuh, namun tanah penyangga di salah satu sisi longsor hingga membuat jembatan miring dengan kemiringan mendekati 45 derajat.
“Itu semula jalannya longsor kira-kira 3 kilometer, semua amblas. Jembatannya nggak patah karena baja,” ujarnya.
Peran Pemerintah dan BPJN Aceh
Ia menjelaskan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh sejak awal sudah turun ke lapangan. Namun, pihak teknis meminta masyarakat tidak melintasi jembatan karena kondisi tanah di sekitar pondasi masih labil dan dinilai membahayakan.
“Balai PU menyampaikan jangan gunakan ini. Rawan. Jadi gunakan jalan yang memutar,” ungkapnya.
Meski demikian, warga keberatan menggunakan jalur alternatif karena harus memutar lebih jauh. Jika sebelumnya cukup menghabiskan sekitar setengah liter bensin, melalui jalur alternatif warga harus mengeluarkan sekitar tiga liter bahan bakar.
Karena itulah, kata Tito, masyarakat bergotong royong membuat akses jalan sementara dari pasir dan batu (sirtu) di bagian yang amblas agar jembatan tetap bisa dilalui.
“Masyarakat bukan membangun jembatannya. Jembatannya seperti itu. Yang dibangun masyarakat adalah jalan sirtunya,” tegasnya.
Mediasi dan Solusi Pemerintah
Tito mengatakan pihaknya telah memediasi perbedaan pandangan antara masyarakat dan BPJN Aceh. Hasilnya, pemerintah memutuskan jembatan tetap dapat difungsikan sementara dengan sejumlah pembatasan.
Kendaraan roda dua dan mobil penumpang masih diperbolehkan melintas, sedangkan truk dan kendaraan bertonase besar dilarang menggunakan jembatan tersebut.
“PU akan membangun struktur di bawahnya untuk temporer, kemudian jalannya akan diperbaiki dan diaspal. Tapi satu, tidak boleh ada truk lewat situ. Masyarakat setuju,” ujarnya.
Rencana Pembangunan Jembatan Permanen
Selain memperkuat struktur jembatan lama, pemerintah juga akan memperbaiki jalan alternatif, membangun dua jembatan pada jalur tersebut, serta menyiapkan pembangunan jembatan permanen sepanjang sekitar 400 meter di lokasi yang lebih aman pada 2027.
“Jembatan utamanya nanti panjangnya 400 meter dan menjadi ikonnya Tanah Gayo. Itu akan dibangun tahun depan, 2027,” imbuhnya.
Sebelumnya, warga Aceh dikabarkan membangun kembali Jembatan Enang-Enang secara swadaya dengan dana patungan lebih dari Rp 1 miliar setelah akses tersebut putus akibat banjir dan longsor pada November 2025. Proyek mandiri ini dilakukan di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah.



