Mendagri Tito Dorong Pemda Kembangkan Walkable City untuk Kota Sehat
Mendagri Dorong Pemda Kembangkan Walkable City untuk Kota Sehat

Mendagri Tito Karnavian Dorong Penerapan Walkable City di Seluruh Daerah

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian secara tegas mendorong pemerintah daerah (Pemda) di seluruh Indonesia untuk segera menerapkan konsep kota ramah pejalan kaki atau walkable city. Langkah strategis ini dinilai sebagai upaya penting dalam mewujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

Investasi Kesehatan Jangka Panjang melalui Ruang Hijau

Dalam forum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Banda Aceh, Senin (20/4/2026), Tito menekankan bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Dampak kesehatan dan kualitas hidup masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap perencanaan tata ruang kota.

"Dengan membangun taman yang banyak, ruang hijau yang banyak untuk kegiatan olahraga, ada pedestrian, itu jauh lebih murah dibanding biaya mereka untuk mensubsidi masyarakat yang terkena penyakit," tegas Tito dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (21/4/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurutnya, konsep walkable city tidak hanya menciptakan ruang kota yang nyaman untuk berjalan kaki, tetapi juga mendorong:

  • Aktivitas olahraga rutin masyarakat
  • Interaksi sosial yang lebih intensif
  • Peningkatan produktivitas warga kota
  • Pengurangan biaya kesehatan masyarakat

Belajar dari Praktik Terbaik Singapura

Tito memberikan contoh nyata dari Singapura yang berhasil mengintegrasikan ruang hijau dan fasilitas publik dalam perencanaan kotanya. Investasi pada taman dan jalur pedestrian terbukti memberikan manfaat ekonomi yang signifikan, termasuk dalam menekan beban pembiayaan sektor kesehatan.

"Kota yang dirancang dengan pendekatan walkable city akan berkontribusi besar pada peningkatan kesehatan masyarakat sekaligus produktivitas warga," jelas mantan Kapolri tersebut.

Peringatan Penting tentang Keseimbangan Tata Ruang

Mendagri juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan pemanfaatan ruang kota. Dia mengajak seluruh Pemda untuk tetap mempertahankan ruang terbuka hijau sebagai bagian dari sistem penyangga lingkungan yang vital.

"Jangan sampai semuanya di-convert menjadi daerah komersial semua. Pemukiman semua. Kalau itu di-convert menjadi pemukiman semua, maka yang terjadi nanti, satu, ruang hijaunya untuk bantalannya nggak ada. Tiba-tiba apa? Banjir," tegas Tito dengan nada serius.

Menurutnya, konsistensi dalam kebijakan tata ruang menjadi kunci utama dalam:

  1. Menjaga keberlanjutan pembangunan kota
  2. Mencegah berbagai persoalan lingkungan seperti banjir
  3. Mempertahankan kualitas ekosistem perkotaan
  4. Mengurangi risiko penyempitan sungai

Ilustrasi Praktis dari Bandara Banyuwangi

Sebagai contoh konkret, Tito menyinggung pembangunan Bandara Banyuwangi yang mengusung konsep ramah lingkungan dengan memaksimalkan ventilasi alami dan meminimalkan penggunaan pendingin udara. Komitmen dalam mempertahankan konsep tersebut menunjukkan pentingnya konsistensi kebijakan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

"Keberadaan ruang hijau memiliki peran penting tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga sebagai ruang resapan air dan penyangga keseimbangan lingkungan," tambahnya.

Mengajak Kepala Daerah Berpikir Holistik

Di akhir paparannya, Tito mengajak semua kepala daerah untuk memandang kota sebagai ruang hidup yang mendukung kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, bukan semata sebagai pusat aktivitas ekonomi. Pendekatan walkable city dan penguatan ruang hijau dinilai sebagai solusi cerdas yang mengintegrasikan aspek kesehatan, lingkungan, dan ekonomi secara harmonis.

Dengan implementasi konsep ini secara konsisten, diharapkan kota-kota di Indonesia dapat berkembang menjadi tempat yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga