Di tengah keriuhan para pencari kerja muda yang memadati Gedung Nyi Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta Selatan, terselip sosok pria dengan gurat wajah yang lebih matang. Asep (51) melangkah perlahan di antara stan-stan perusahaan, sementara mayoritas peserta sibuk merapikan kemeja putih dan menatap layar ponsel dengan cemas. Pagi itu, ia menempuh perjalanan dari kediamannya di kawasan Senen, Jakarta Pusat, menuju Job Fair Tahap I: Jakarta Selatan Career Fest and Bazaar 2026.
Modal Sederhana, Semangat Besar
Modalnya sederhana: sebuah sepeda motor yang setidaknya membuatnya tetap merasa berdaya karena masih bisa mengantar sang istri bekerja atau menjemput kemenakannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Asep merindukan sesuatu yang lebih—sebuah pekerjaan tetap. "Saya ingin kerja lagi, pengen ada aktivitas sehari-hari. Kalau cuma di rumah terus, rasanya gimana ya, saya juga perlu penghasilan sendiri, minimal buat beli rokok," ujar Asep dengan nada bicara yang tenang namun penuh harap, Rabu (8/7/2026).
Asep bukanlah orang baru di dunia kerja. Ia telah menghabiskan kurang lebih 10 tahun hidupnya di balik kemudi sebagai seorang driver atau sopir. Namun, roda nasib membawanya pada masa pengangguran yang kini telah menginjak bulan kesembilan. Sejak tahun 2025 lalu, ia resmi vakum dari pekerjaannya sebagai sopir. Meski usianya sudah menginjak kepala lima, semangat Asep tidak luntur. Ia tidak mematok harus kembali menjadi sopir; pengalaman bekerja di pabrik roti pun pernah dilalui. Bagi Asep, pekerjaan apa pun akan dilakoni asal halal dan memberikan penghasilan tetap.
Musuh Terbesar: Batas Usia
Realita di lapangan seringkali tak seindah semangatnya. Musuh terbesar Asep saat ini bukanlah kurangnya keahlian, melainkan angka di kolom usia. "Kendalanya memang mentok di umur. Saya menyadari itu," keluhnya jujur. Asep bercerita pernah mencoba melamar ke perusahaan roti, bahkan melalui relasi yang dimilikinya. Namun, lagi-lagi batas usia membuatnya harus pulang dengan tangan hampa. "Kalau bidang lain, saya ada sih dulu pernah kerja di pabrik roti. Kemarin saya ngelamar di perusahaan roti, tapi (kendala) umur, padahal ada relasi," cerita Asep.
Di ajang Career Fest kali ini, Asep mencoba peruntungan kembali. Ia tak gentar harus bersaing dengan anak-anak muda yang mungkin seusia dengan anaknya. Baginya, produktivitas bukanlah soal berapa umur seseorang, melainkan tentang kemauan untuk terus bergerak. "Kalau soal produktif apa enggaknya, saya rasa saya masih bisa. Masih kuat untuk beraktivitas," tegasnya.
Bekerja untuk Martabat
Bagi Asep, bekerja bukan sekadar mencari materi. Ada martabat yang ingin dijaga sebagai seorang kepala rumah tangga. Selama sembilan bulan terakhir, hari-harinya diisi dengan menjadi 'sopir pribadi' bagi keluarganya. Meski bermanfaat, ada rasa rindu untuk kembali memiliki rutinitas profesional di sebuah perusahaan atau setidaknya menjadi sopir pribadi bagi majikan baru. Saat matahari mulai meninggi di atas Gedung Nyi Ageng Serang, Asep masih terus berkeliling, melihat-lihat daftar lowongan yang tertempel, sembari menyelipkan doa di setiap langkahnya.



