Istana Evaluasi Pelatihan SPPI Buntut 3 Peserta Meninggal saat Latsarmil
Istana Evaluasi Pelatihan SPPI Usai 3 Peserta Meninggal

Pemerintah berjanji akan mengevaluasi program pelatihan manajer Koperasi Desa Merah Putih buntut meninggalnya tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil). Hal itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (26/2/2026).

Evaluasi Menyeluruh Dilakukan

"Semua proses tentu kami evaluasi. Apabila ada prosedur yang salah, tentu akan kami perbaiki," kata Prasetyo Hadi. Ia menambahkan, pemerintah belum menemukan indikasi kelalaian terkait meninggalnya tiga peserta SPPI. Menurutnya, insiden terjadi pada hari pertama dan kedua pelatihan. Pemerintah belum dapat menyimpulkan penyebab kematian, apakah berkaitan dengan kemampuan calon manajer, aspek teknis, atau beban latihan yang terlalu berat. Istana menekankan proses pendalaman terus berjalan dan meminta seluruh tahapan pelatihan dimonitor.

Materi Pelatihan Tetap Sesuai Kompetensi

Prasetyo memastikan materi pelatihan bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih tetap memuat unsur dasar yang dibutuhkan untuk kompetensi kerja. "Bukan latihan dasar seperti itu. Itu bagian dari proses pelatihan. Mengenai kompetensi, tentu tetap ada pelatihan. Pemerintah pasti melakukan pendidikan dan pelatihan kompetensi," tuturnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tiga Peserta Meninggal di Lokasi Berbeda

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi peserta SPPI calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) bernama Novia Rahmadhani Sihotang meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis. "Benar, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalnya salah satu peserta Program SPPI KNMP Tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Kemhan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhumah," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).

Rico menjelaskan Novia mengalami gangguan kesehatan saat menjalani latsarmil pada Senin, 22 Juni 2026. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa, dan dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, 23 Juni 2026. "Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB)," ujar Rico.

Dua Kasus Sebelumnya: Anisa dan Yonanda

Kemhan juga menyampaikan dua peserta lain meninggal saat mengikuti pendidikan di lokasi berbeda. Menurut Rico, Anisa Muyassaroh wafat akibat heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja. Ia sempat mengalami penurunan kondisi fisik pada 17 Juni 2026 dan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. "Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung," kata Rico.

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Pelatihan

Kemhan menyatakan seluruh peserta latsarmil telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan. Peserta yang mengalami gangguan kesehatan selama pelatihan disebut mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur. "Saat ini Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan terus melakukan evaluasi dan penguatan pengawasan kesehatan peserta guna memastikan keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program," ujar Rico.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga