Gen Z Serbu CPNS: Antara Idealisme Digital dan Ancaman Zona Nyaman Birokrasi
Gen Z Serbu CPNS: Idealisme vs Ancaman Zona Nyaman

Gen Z Serbu CPNS: Antara Idealisme Digital dan Ancaman Zona Nyaman Birokrasi

Fenomena antusiasme Generasi Z untuk terjun ke dalam birokrasi pemerintah merupakan sebuah anomali yang sangat menarik perhatian. Di tengah gemerlap budaya startup yang menjanjikan fleksibilitas tanpa batas, minat untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) justru mengalami lonjakan signifikan. Data rekrutmen CPNS 2024 menjadi bukti yang sangat sahih dan tidak terbantahkan.

Gelombang Digital Native dalam Birokrasi

Dari sekitar 250.000 formasi yang tersedia, hampir tiga juta pelamar berebut kursi, dengan mayoritas didominasi oleh para generasi muda dari kelompok Gen Z. Gelombang talenta baru ini hadir sebagai digital native yang secara alami telah terbiasa bekerja dengan cepat, efisien, dan menjunjung tinggi nilai-nilai idealisme dalam setiap aspek kehidupan profesional mereka.

Namun, di balik angka fantastis tersebut, tersimpan sebuah risiko sistemik yang sering kali luput dari pembahasan publik dan analisis mendalam: jebakan zona nyaman yang berpotensi mematikan inovasi dan kreativitas di dalam tubuh birokrasi.

Jebakan "Zona Nyaman" dan Retensi Pasif

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih dianggap sebagai pekerjaan impian oleh banyak kalangan, terutama karena janji jenjang karier yang pasti dan jaminan hari tua yang terjamin. Namun, stabilitas yang ditawarkan ini bagaikan pisau bermata dua yang memiliki dampak ganda.

Ada kecenderungan kuat bahwa sistem kerja ASN dapat bertransformasi menjadi zona nyaman yang membuat para pegawainya merasa tidak perlu melakukan upaya lebih atau extra effort dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dalam konteks ini, muncul fenomena yang dikenal sebagai "retensi pasif".

Retensi pasif adalah kondisi di mana seorang pegawai terjebak dalam rutinitas harian yang monoton dan secara perlahan kehilangan minat untuk mengejar prestasi atau pengembangan diri lebih lanjut. Bagi ASN dari generasi Gen Z yang terbiasa dengan efisiensi dan dinamika kerja yang cepat, pola kerja yang monoton serta birokrasi yang berbelit-belit bisa memicu rasa malas untuk berkembang dan berinovasi.

Implikasi Jangka Panjang bagi Kepemimpinan

Jika para ASN Gen Z ini terlanjur nyaman dengan ritme kerja yang lambat dan tanpa adanya tantangan yang berarti, maka rotasi kepemimpinan di masa depan akan terisi oleh individu-individu yang telah kehilangan daya kritis dan kemampuan inovatifnya. Hal ini dapat berpotensi menghambat transformasi birokrasi menuju sistem yang lebih responsif, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang optimal.

Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus untuk memastikan bahwa gelombang baru talenta digital ini tidak terjebak dalam pola lama, tetapi justru menjadi motor penggerak perubahan dalam tata kelola pemerintahan yang lebih modern dan efisien.