Sebuah video yang beredar di media sosial mengklaim bahwa seorang pria mendapatkan bantuan dari Pemerintah Australia melalui program Direct Aid Program (DAP). Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa bantuan disalurkan melalui Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Jacklevyn Frits Manuputty. Namun, berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video tersebut merupakan hasil manipulasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kronologi Penyebaran Video Palsu
Video yang memperlihatkan seorang pria mengaku menerima bantuan DAP Australia itu dibagikan oleh sejumlah akun Facebook. Akun-akun tersebut mengunggah video dengan narasi serupa, yaitu mengklaim adanya bantuan langsung dari Australia yang disalurkan melalui tokoh gereja. Pemeriksaan lebih lanjut oleh Tim Cek Fakta Kompas.com menemukan bahwa video tersebut adalah deepfake yang dihasilkan oleh AI, bukan rekaman asli.
Direct Aid Program Australia: Program Bantuan Resmi
Direct Aid Program adalah skema bantuan kecil yang dikelola oleh Kedutaan Besar Australia di berbagai negara, termasuk Indonesia. Program ini biasanya mendanai proyek-proyek komunitas di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Namun, dalam kasus ini, tidak ada bukti bahwa dana DAP disalurkan melalui PGI atau tokoh tertentu seperti yang diklaim dalam video. Kedutaan Besar Australia di Jakarta belum memberikan tanggapan resmi terkait beredarnya video tersebut.
Modus Manipulasi AI dalam Penyebaran Hoaks
Fenomena penggunaan AI untuk membuat konten palsu semakin marak. Teknologi deepfake memungkinkan pelaku memanipulasi video sehingga tampak seperti asli. Dalam video yang beredar, wajah dan suara pria tersebut diduga direkayasa untuk meniru pernyataan yang tidak pernah terjadi. Tim Cek Fakta Kompas.com telah melakukan verifikasi dengan membandingkan gerakan bibir, intonasi suara, dan latar belakang yang tidak konsisten, serta menemukan artefak visual yang umum pada hasil generasi AI.
Dampak dan Imbauan
Penyebaran video hoaks semacam ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. PGI sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait klaim tersebut. Masyarakat diimbau untuk selalu melakukan verifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Tim Cek Fakta Kompas.com terus memantau konten serupa dan mengingatkan agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum jelas kebenarannya.



