Tim UGM Ungkap Api di Rumah Fia Butuh Pemantik, Bukan Spontan
Tim UGM: Api di Rumah Fia Butuh Pemantik, Tak Spontan

Yogyakarta, CNN Indonesia -- Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap temuan kandungan resin poly vinyl chloride (PVC) di kediaman Mutfiana alias Fia, daerah Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Temuan ini mengindikasikan bahwa fenomena api misterius yang terjadi di rumah tersebut tidak muncul secara spontan, melainkan membutuhkan pemantik dari sumber yang belum diketahui.

Temuan Resin PVC

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM sebelumnya telah menyimpulkan bahwa fenomena api misterius di rumah Fia tidak berasosiasi dengan gas alam, seperti gas hidrogen (H2) atau gas fosfin (PH3). Sebaliknya, mereka menemukan kandungan resin PVC yang mudah terbakar jika bertemu dengan sumber api (ignition). Kandungan ini ditemukan dari residu kebakaran yang secara tidak umum ada di permukaan dinding keramik maupun kayu atau tripleks di rumah Fia melalui metode FTIR.

Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM yang tergabung dalam tim PKPE, Sarju Winardi, mengatakan bahwa timnya menduga resin PVC ini berasal dari campuran solvent atau zat pelarut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penjelasan Sarju Winardi

"Residu dari poly vinyl ini diduga berasal dari substansi yang awalnya adalah campuran. Yang residu itu adalah sisa dari solid materialnya. Yang menjadi sumber dari api itu adalah campuran solvent-nya. Jadi rupa-rupanya materi ini awalnya adalah sesuatu yang sifatnya bercampur ya, dengan sesuatu pelarut, solvent. Nah, pelarut inilah yang kemudian lepas sebagai, yang menghasilkan api," jelas Sarju di FT UGM, Sleman, DIY, Sabtu (14/6).

Residu berupa resin PVC ini, menurut Sarju, biasanya ditemukan pada sisa pembakaran benda-benda yang mengandung solvent seperti lem atau cat. Namun, ia menekankan bahwa zat pelarut ini tidak bisa terpantik dan menyulutkan api dengan sendirinya. Solvent juga tidak bisa mengalami self-ignition hanya dengan suhu kamar.

"Solvent inilah yang dia terbakar. Nah, terbakarnya solvent itu ada pemantiknya," jelas Sarju. "Ini harus dipantik oleh sesuatu yang kami tidak tahu, karena kami tidak pada tahap sampai ke sana," sambungnya.

Penelitian Tidak Mencakup Pemantik

Sarju mengatakan bahwa timnya tidak menginvestigasi atau menyimpulkan pemantik atau bagaimana api akhirnya bisa tersulut di rumah Fia. Dengan adanya kesimpulan ini, Koordinator PKPE Alva Edy Tontowi menuturkan bahwa tim PKPE menyatakan penelitian fenomena api yang mereka lakukan sudah tuntas. Selanjutnya, tim menyerahkan hasil penelitian ini kepada BPBD Sleman.

Kesimpulan Sebelumnya

Sebelumnya, Tim PKPE FT UGM memastikan bahwa pemicu fenomena api misterius di kediaman Fia bukanlah gas alam. Tim tidak menemukan cukup bukti bahwa api muncul secara alami dan dapat menyala karena pemantik elektromagnetik maupun nyala sendiri mengikuti kaidah self-ignition.

Alva menuturkan, berdasarkan hasil penelitian timnya dan mengacu pada prinsip teori segitiga api, pihaknya menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik terukur pada level aman. "Yang berarti bukan pemantik nyala api; sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan (lantai); tidak ada anomali termal dan tidak ditemukan gas yang dapat menyala sendiri secara alami (self-ignition) pada suhu kamar," kata Alva membacakan kesimpulan hasil penelitian PKPE di Fakultas Teknik UGM, Sleman, DIY, Sabtu (13/6).

Menurut Alva, tim menemukan data lanjutan bahwa api yang membakar material di rumah Fia kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride. "Resin poly vinyl chloride yang mudah terbakar jika bertemu sumber api (ignition). Resin ini telah ditemukan pada residu pembakaran berdasarkan pengujian metode FTIR," jelas Alva.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga