Limbah batu bara berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) berhasil disulap menjadi pupuk kompos produktif oleh warga binaan di Bangka Belitung (Babel). Pelatihan pengolahan limbah tersebut digelar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjungpandan bersama Lapas Kelas IIA Pangkalpinang pada Kamis, 16 Juli 2026.
Pelatihan Keterampilan Ramah Lingkungan dan Bernilai Ekonomi
Langkah inovatif ini dirancang untuk memberikan keterampilan praktis yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi tinggi bagi para warga binaan. Program ini juga menjadi bagian dari implementasi taktis guna mendukung ketahanan pangan serta penguatan pemasaran produk karya narapidana lewat jaringan UMKM.
"Orientasi pemasyarakatan kini telah bergeser ke arah pembangunan kemandirian yang nyata," ujar Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Kepulauan Bangka Belitung Ade Agustina, melalui keterangan tertulis, Jumat (17/7/2026). Dia melanjutkan, melalui pemanfaatan FABA, para warga binaan dibekali keterampilan aplikatif yang bisa langsung mereka gunakan untuk membuka usaha mandiri setelah bebas nanti.
"Program ini juga menunjukkan bahwa limbah yang selama ini dipandang tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian dan mendukung ketahanan pangan," kata Ade Agustina.
Mendukung Pertanian Lokal dan Kemandirian Warga Binaan
Kepala Lapas Kelas IIB Tanjungpandan, Royhan Al Faisal, menyebut pelatihan ini sebagai strategi jitu untuk menjawab kebutuhan sektor pertanian lokal di Belitung. Pihaknya ingin memastikan bahwa setiap warga binaan memiliki modal keahlian produktif agar tidak lagi canggung saat kembali berbaur ke tengah masyarakat.
"Kami ingin memastikan setiap Warga Binaan memperoleh kesempatan belajar keterampilan yang aplikatif sesuai kebutuhan masyarakat. Pengolahan FABA menjadi pupuk kompos memiliki potensi ekonomi sekaligus mendukung pengembangan pertanian di wilayah Belitung," ucap Royhan.
Di sisi lain, Kepala Lapas Kelas IIA Pangkalpinang Sugeng Indrawan menilai sinergi antar-lapas sangat krusial untuk memperluas dampak positif program pembinaan. Dia berharap transfer pengetahuan ini mampu menghasilkan produk pupuk kompos berkualitas yang diproduksi secara berkelanjutan.
"Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa antar-UPT Pemasyarakatan dapat saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi. Nantinya kegiatan bisa dikembangkan secara berkelanjutan di lingkungan pemasyarakatan lainnya maupun masyarakat," tandas Sugeng.
Uji Coba Lapangan pada Tanaman Kelapa Sawit
Usai sesi teori dan praktik, pupuk kompos hasil olahan tersebut langsung dibagikan secara simbolis kepada warga binaan serta kelompok tani lokal. Tim gabungan kemudian bergerak melakukan uji coba lapangan (demonstration plot) tahap pertama pada tanaman kelapa sawit di kawasan Desa Binaan Cerucuk.
Langkah ini diharapkan dapat membuktikan kualitas pupuk kompos dari limbah FABA dan mendorong adopsi teknologi ramah lingkungan di sektor pertanian. Program ini juga menjadi contoh nyata bagaimana limbah industri dapat diubah menjadi sumber daya bernilai.



