Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Transmigrasi Kikim, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan, untuk meresmikan pembangunan dan rehabilitasi sarana sekolah di kawasan transmigrasi. Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong penyelesaian sertifikasi lahan bagi para transmigran melalui program Trans Tuntas.
Sejarah Transmigrasi di Lahat
Viva Yoga mengungkapkan bahwa transmigran dari Jawa pertama kali tiba di Lahat pada tahun 1982. Mereka ditempatkan di Satuan Pemukiman (SP) 1 sebanyak 400 Kepala Keluarga (KK) dan SP 2 sebanyak 500 KK. Program transmigrasi terus berlangsung hingga tahun 2016. Setelah 44 tahun, kawasan yang dulunya hutan kini telah berubah menjadi desa dengan berbagai fasilitas pendukung.
“Dulu transmigrasi dilakukan secara top down atau langsung dari program pemerintah pusat,” ujar Viva Yoga dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026). Kini, pendekatan transmigrasi berubah menjadi bottom up dan desentralisasi, yaitu atas inisiatif atau keinginan pemerintah daerah sendiri.
Program Trans Tuntas Selesaikan Sengketa Lahan
Viva Yoga menegaskan bahwa transmigrasi terbukti mampu menciptakan kawasan pertumbuhan baru. Hal ini dibuktikan dengan adanya 60 proposal dari bupati untuk membuka kawasan transmigrasi baru. Namun, ia menekankan bahwa jika pemerintah daerah membutuhkan transmigran, maka daerah tersebut harus menyediakan lahan yang statusnya clear, clean, dan free.
“Agar tidak terjadi tumpang tindih lahan dan membawa masalah ke depannya,” tuturnya. Ia mengakui bahwa di berbagai kawasan transmigrasi, termasuk Kikim, masih ada permasalahan lahan seperti tumpang tindih dengan lahan hutan dan belum bersertifikat Hak Milik (SHM).
Oleh karena itu, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) saat ini merealisasikan program Trans Tuntas. “Program ini fokus untuk menyelesaikan sengketa lahan di kawasan transmigrasi dan melakukan sertipikasi lahan yang ditempati transmigran,” ungkap Viva Yoga. Ia menambahkan, “Trans Tuntas telah menyelesaikan beberapa sengketa lahan dan mensertipikati ribuan lahan milik transmigran menjadi SHM.”
Rehabilitasi Sekolah di Kawasan Transmigrasi
Kedatangan Viva Yoga di SDN 18 Kikim Timur juga untuk meresmikan hasil pembangunan dan rehabilitasi sekolah di kawasan transmigrasi. Terdapat lima sekolah yang mendapat bantuan dari Kementrans untuk membangun atau merehabilitasi bagian-bagian penting seperti toilet dan ruang kelas.
“Setiap tahun anggaran, program ini kita jalankan lebih dari seratus sekolah di 154 kawasan transmigrasi yang tersebar di seluruh Indonesia,” paparnya. Ia menerima aspirasi dari banyak pihak bahwa masih ada sekolah yang perlu diperhatikan kondisi bangunannya. Menanggapi hal ini, Kementrans sepakat bersinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk membangun dan merehabilitasi sekolah, termasuk pemenuhan kebutuhan guru.
Viva Yoga mengungkapkan bahwa Kemendikdasmen akan membidik pembangunan dan rehabilitasi sekolah di 70.000 titik. “Dari sini, ribuan sekolah lain di kawasan transmigrasi yang perlu dibangun dan rehab, akan kita masukkan dalam program kerja sama antara Kementrans dan Kemendikdasmen,” tegasnya.
Komitmen Cetak SDM Unggul
Viva Yoga menegaskan bahwa rehabilitasi dan pembangunan sekolah akan dituntaskan. Hal ini penting untuk mempersiapkan dan mencetak sumber daya unggul dari kawasan transmigrasi. “Saya lihat anak-anak sekolah di sini unggul, cerdas, ceria, dan sehat-sehat,” pungkasnya.
Kunjungan Viva Yoga ke Desa Sukoharjo, Kecamatan Kikim Timur, disambut antusias oleh para transmigran, siswa-siswi sekolah, guru, hingga para kepala desa. Hadir pula Muspika, Muspida, anggota DPRD, Bupati Lahat Bursah Sarnubi, Wakil Bupati Widia Ningsih, serta pejabat kabupaten dan provinsi lainnya. Mereka mengaku bahwa sejak transmigrasi pertama kali dilakukan pada tahun 1982, baru kali ini kawasan mereka dikunjungi atau ditinjau oleh pemerintah pusat.



