UI dan BRIN Kembangkan Model Pengelolaan Sampah Zero Waste di Kampus
UI dan BRIN Kembangkan Model Sampah Zero Waste di Kampus

UI, BRIN, dan Viro Luncurkan Program Merdeka Sampah

Universitas Indonesia (UI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta mitra industri Viro mengembangkan model percontohan pengelolaan sampah berbasis zero waste di lingkungan pendidikan. Program ini diberi nama Merdeka Sampah, yang merupakan bagian dari pengabdian masyarakat Fakultas Teknik UI (FTUI).

Menurut Guru Besar Departemen Teknik Metalurgi & Material FTUI, Prof Mochamad Chalid, program ini bertujuan mendorong transformasi pengelolaan sampah di institusi pendidikan melalui pendekatan sistematis, edukatif, dan berkelanjutan. "Merdeka Sampah sendiri merupakan bagian dari pengabdian masyarakat FTUI yang berfokus pada pembangunan budaya peduli lingkungan melalui edukasi dan perubahan perilaku sejak dini," ujar Chalid dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).

Tujuh Aspek Utama Keberlanjutan

Melalui rangkaian pelatihan dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Roadmap Waste Management Institusi Pendidikan, sekolah dan kampus mitra didorong menjadi ruang praktik keberlanjutan. Chalid menjelaskan terdapat tujuh aspek utama yang dikedepankan: leadership, awareness, facility, regulation, technology, organizing, dan financial.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurutnya, pengelolaan sampah di institusi pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas dan teknologi, tetapi juga membutuhkan karakter kepemimpinan yang kuat, tata kelola terstruktur, perubahan kebiasaan, serta komitmen bersama seluruh anggota institusi.

Budaya Kelola Sampah Sejak Dini

Chalid menekankan bahwa sekolah dan kampus adalah tempat terbaik untuk menanamkan kebiasaan baru. "Ketika budaya mengelola sampah dibangun sejak dini, dampaknya tidak hanya dirasakan di lingkungan pendidikan, tetapi juga meluas ke keluarga dan masyarakat. Karena itu, perubahan perilaku harus menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan," ucapnya.

Setiap institusi pendidikan didorong untuk mengidentifikasi kondisi aktual, tantangan, dan aksi prioritas yang berfokus pada pengurangan timbulan sampah, pemilahan dari sumber, pengolahan sampah organik, serta penguatan tata kelola data. "Roadmap yang disusun melalui program ini diharapkan mampu menjadi panduan awal dalam memperkuat sistem yang terintegrasi, mulai dari perubahan perilaku warga institusi dan penguatan fasilitas pendukung, hingga pengembangan kawasan edukatif berbasis lingkungan," jelas Chalid.

Kolaborasi Multipihak untuk Solusi Berkelanjutan

Dekan FTUI, Kemas Ridwan Kurniawan, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi multipihak dan solusi berbasis ilmu pengetahuan. "Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan dan inovasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi yang menjawab tantangan masyarakat. Melalui program Merdeka Sampah, FTUI mendorong sinergi antara akademisi, pemerintah, dan industri untuk membangun model pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan dapat menjadi referensi bagi institusi pendidikan di Indonesia," kata Kemas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga