Dukungan Dekranas untuk Tenun Tana Toraja
Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Tri Tito Karnavian, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan tenun Tana Toraja sebagai motor penggerak ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disampaikan dalam acara peresmian kegiatan Dekranasda Tana Toraja bertajuk "Pelatihan Pembuatan dan Pemanfaatan Pewarna Alami" di Pasar Seni Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pada Senin (6/7/2026).
Menurut Tri, wastra tenun Tana Toraja merupakan warisan budaya yang kuat dan telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat. Kelestariannya terus terjaga karena masih digunakan dalam keseharian. "Oleh sebab itu, tentu mengandung motif-motif ataupun filosofi yang berkaitan dengan kepercayaan, dan status sosial masyarakat di Tana Toraja ini. Sehingga ada motif-motif yang memang harus dijaga kelestariannya," ujar Tri dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).
Adaptasi dengan Kebutuhan Pasar
Di tengah perkembangan dunia fesyen dan arus modernisasi, Tri menekankan bahwa tenun Tana Toraja perlu beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Wastra tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan. Sektor ini telah memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah maupun nasional. "Secara global menjadi sumbangan [ekonomi] dari UMKM khususnya kerajinan. Karena ini masuk ekonomi kreatif, pasti kita ingin ini menjadi suatu sumber ekonomi yang unggul," tambahnya.
Melalui pelatihan pewarna alami, Tri berharap muncul lebih banyak kreasi baru yang berangkat dari kekayaan wastra Tana Toraja. Meski motif khas harus dipertahankan, pengembangan variasi motif dan teknik produksi diperlukan agar produk semakin diminati pasar.
Perlindungan Indikasi Geografis
Tri juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap wastra daerah melalui indikasi geografis. Identitas produk, termasuk motif yang sudah ada maupun yang akan dikembangkan, perlu didokumentasikan dan didaftarkan kepada pihak berwenang. "Agar tidak diambil oleh produsen-produsen yang mungkin ingin memperbanyak produk ini, namun kemudian tidak memberikan nilai ekonomi kepada pemerintah daerah," ungkapnya.
Selain tenun, Tana Toraja memiliki beragam produk kriya lain yang berpotensi dipasarkan hingga internasional. Daerah ini juga terkenal sebagai penghasil kopi dan memiliki kekayaan budaya yang menjadi daya tarik wisata, yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian. "Ini juga sebagai bentuk sumber pendapatan lagi. Tidak hanya kepada pendapatan daerah tapi juga pendapatan masyarakat," tandasnya.
Kehadiran Pejabat dalam Acara
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Restuardy Daud, Bupati Tana Toraja Zadrak Tombeg, Wakil Bupati Tana Toraja Erianto Laso' Paundanan, Ketua Dekranasda Kabupaten Tana Toraja Erni Yetti Riman, serta jajaran pengurus Dekranasda Tana Toraja.



