Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai momentum bersama dalam menjaga lingkungan. Saat ini, bumi mengalami tekanan berat akibat krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan yang dikenal sebagai triple planetary crisis.
Momentum Beralih ke Tindakan Nyata
Dalam acara puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur yang dihadiri 10 ribu peserta, Jumhur menegaskan bahwa peringatan tahun ini harus menjadi momentum untuk beralih dari kesadaran menuju tindakan nyata. "Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2026).
Pentingnya Pertobatan Ekologis
Menurut Jumhur, kondisi lingkungan saat ini menuntut adanya pertobatan ekologis, yaitu perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui komitmen dan kepedulian, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari yang nyata dan berkelanjutan. KLH/BPLH menekankan bahwa aksi iklim tidak selalu dimulai dari langkah besar; perubahan dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pemilahan Sampah sebagai Aksi Sederhana Berdampak Besar
Salah satu aksi sederhana namun berdampak besar adalah memilah sampah dari sumber. Langkah ini penting karena persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Indonesia menghasilkan sekitar 51 juta ton sampah setiap tahun, dan sebagian besar masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dalam kondisi tercampur. Sampah organik yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana, gas rumah kaca dengan potensi pemanasan jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
"Semakin banyak sampah yang dipilah, dikurangi, digunakan kembali, didaur ulang, maupun diolah dari sumbernya, semakin kecil pula emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Pada saat yang sama, beban TPA dapat dikurangi dan kualitas lingkungan hidup masyarakat dapat ditingkatkan," jelas Jumhur.
Gerakan Indonesia ASRI
Melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), KLH/BPLH mengajak masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya baru dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa aksi iklim tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau investasi besar, tetapi dapat dimulai dari perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu.
No Generation Left Behind
Semangat 'No Generation Left Behind' menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. "Tidak boleh ada satu generasi pun yang tertinggal dalam memahami, menghadapi, dan mengambil peran dalam mengatasi krisis lingkungan. Generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap lingkungan yang sehat, sumber daya alam yang lestari, dan kualitas hidup yang lebih baik," tutur Jumhur.
Pemerintah akan terus memperkuat berbagai kebijakan dan program pengendalian perubahan iklim serta perlindungan lingkungan hidup untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Namun keberhasilan upaya tersebut hanya dapat dicapai melalui kolaborasi dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
"Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan lingkungan tidak ditentukan oleh apa yang kita rencanakan, melainkan oleh apa yang kita lakukan mulai hari ini. Oleh karena itu, saatnya mengubah kepedulian menjadi tindakan, dan tindakan menjadi gerakan bersama," jelasnya.
Tema 'Saatnya Bekerja untuk Iklim'
Tema 'Saatnya Bekerja untuk Iklim' pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk mengambil bagian dalam aksi iklim, mulai dari lingkungan terdekat hingga skala yang lebih luas. Pesan tersebut sejalan dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy yang menegaskan bahwa isu lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional.
"Urusan lingkungan hidup adalah urusan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Presiden memiliki program yang sangat konkret terkait swasembada pangan, swasembada air, dan swasembada energi. Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila lingkungan hidup tidak terjaga dengan baik. Pak Menteri Lingkungan Hidup sudah mengatakan bahwa menyelesaikan persoalan lingkungan harus dengan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat," tutup Pambudy.



