Krisis Sampah Plastik Global: Kurang dari 9 Persen Didaur Ulang
Krisis Sampah Plastik: Kurang dari 9 Persen Didaur Ulang

Masalah sampah plastik global semakin mencapai titik kritis. Setiap tahun, Bumi tercatat menghasilkan sekitar 353 hingga 357 juta ton limbah plastik. Sayangnya, pengelolaan komoditas pasca-konsumsi ini masih sangat buruk.

Distribusi Sampah Plastik Global

Dari total volume tersebut, hampir 46 persen berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), 22 persen menjadi sampah yang tidak dikelola atau dibakar secara terbuka, dan 17 persen dihancurkan melalui proses insinerasi. Sementara itu, kurang dari 9 persen sampah plastik yang benar-benar didaur ulang secara efektif.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik mencemari lingkungan, merusak ekosistem laut, dan membahayakan kesehatan manusia. Partikel mikroplastik telah ditemukan di air, tanah, dan bahkan dalam tubuh manusia. Diperlukan tindakan global yang lebih tegas untuk mengurangi produksi plastik sekali pakai dan meningkatkan infrastruktur daur ulang.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Negara-negara di dunia mulai menyadari urgensi ini. Beberapa negara telah menerapkan larangan kantong plastik, sistem deposit botol, dan insentif untuk penggunaan bahan alternatif. Namun, upaya tersebut masih belum cukup untuk mengatasi volume sampah yang terus meningkat.

Para ahli menekankan perlunya pendekatan sirkular, di mana plastik dirancang untuk dapat digunakan kembali dan didaur ulang, bukan dibuang setelah sekali pakai. Investasi dalam teknologi daur ulang dan edukasi publik juga menjadi kunci untuk mengurangi krisis ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga