Keuntungan Tipis Koperasi Merah Putih di Jakarta, Begini Strateginya
Keuntungan Tipis Koperasi Merah Putih di Jakarta

Koperasi Merah Putih yang beroperasi di beberapa titik di Jakarta mencatatkan keuntungan yang relatif tipis, terutama pada penjualan barang kebutuhan pokok. Meski pembeli ramai, margin keuntungan untuk komoditas seperti telur dan beras hanya berkisar antara 3 hingga 7 persen. Para pengurus koperasi pun melakukan berbagai inovasi, mulai dari bundling produk, memanfaatkan momen spesial, hingga mencari sumber barang murah atau sistem konsinyasi untuk menekan modal.

Koperasi Pondok Kelapa: Untung Tipis, Andalkan Pembelian dalam Jumlah Besar

Koperasi Merah Putih Pondok Kelapa di Duren Sawit, Jakarta Timur, buka setiap hari Senin hingga Jumat pukul 09.00-17.00 WIB, dan Sabtu hingga pukul 12.00 WIB. Menurut Pengawas Koperasi, Tata, pembeli cukup ramai karena harga barang yang murah. "Kalau misalnya contoh seperti telor, paling kita antara 5 sampai 7 persen (untungnya). Ada juga yang sangat tipis (keuntungannya)," ujar Tata kepada Liputan6.com, Kamis (16/7/2026).

Untuk meningkatkan keuntungan, Tata mengaku membeli barang lebih beragam dan murah dari sumber yang lebih dekat guna meminimalisir biaya transportasi. "Nah itu yang kami harus memiliki, sumber dekat yang punya multibarangan gitu. Kalau kami hanya beli cuma misalnya telor nih satu kilo, kan enggak mungkin dengan selisih yang hanya sekian rupiah itu kan? Berarti kami harus beli yang lebih banyak gitu. Nah belanja-belanja ini kan ada selisih, itu yang bisa kami ambil keuntungannya," sambung dia. Tata menegaskan, semua hasil keuntungan koperasi terdata secara transaksional dan dilaporkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Koperasi Bangka: Bundling dan Momen Spesial Dongkrak Penjualan

Di Koperasi Merah Putih Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Pengurus Hafiz menceritakan bahwa keuntungan sembako juga kecil. "Kalau sembako memang kecil (keuntungannya), dapat 6 persen juga udah bagus. Kalau air mineral mendingan bisa 10 persen. Apalagi beras, keuntungannya paling 3 persen kadang-kadang," ucap dia. Untuk menarik minat pembeli, koperasi sering mengadakan promo paket bundling sembako, terutama saat momen puasa dan lebaran. Paket sembako Rp100.000 hingga Rp175.000 berisi telur omega, mie, gula, dan teh ramai dibeli saat lebaran.

Selain itu, Koperasi Bangka rutin menjual paket sembako untuk Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) setiap bulan. Sebagian besar sembako diperoleh dari Bulog dengan harga subsidi, sehingga bisa dijual murah. "Barang-barang subsidi Bulog. Untuk barang lain pokoknya nyari suplier atau agen yang murah. Minyak Kita ke Bulog. Kalau beras itu belum punya yang berani, soalnya kan beli putus, butuh modal," jelas Hafiz. Ia mengungkapkan bahwa pengambilan sembako dari Food Station lebih menguntungkan karena sistem konsinyasi, di mana pembayaran dilakukan setelah barang laku. "Kita sih berharap bisa di Food Station karena kan bisa konsinyasi, kita nggak perlu modal kan. Kalau ke Bulog kan harus beli putus. Kalau konsinyasi itu berarti kalau laku baru dibayar gitu ya. Dia setiap seminggu sekali atau dua minggu baru sokongan (pembayaran)," terang dia.

Hafiz mengakui lebih banyak menjual Minyakita karena harganya sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700, lebih murah dari harga pasar yang bisa mencapai Rp18.000. Koperasi juga menjual air mineral, gula, terigu, frozen food, dan kopi, meski tidak semua ditampilkan karena keterbatasan dana untuk membeli rak display. "Kita kan modal sendiri nih dana swadaya dari anggota," tutup Hafiz.

Koperasi Melawai: Ramai di Akhir Pekan, Keuntungan Minim

Koperasi Merah Putih Melawai di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terletak di kawasan Blok M Hub. Menurut karyawan Nana, koperasi ramai pembeli terutama pada akhir pekan Sabtu dan Minggu. "Alhamdulillah rame, apalagi kalau pas libur Sabtu Minggu, sampe penuh ini," kata Nana. Barang yang dijual cukup beragam, mulai dari air mineral, minuman dingin, pampers, popok dewasa, pembalut, tisu, frozen food, hingga air galon dan gas. Pembeli banyak berasal dari tenant di Blok M Hub. Namun, keuntungan yang didapat belum bisa diketahui karena pengurus jarang datang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Sebelumnya, Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menanggapi sorotan terkait Koperasi Melawai yang hanya mencatat keuntungan sekitar Rp78 ribu dalam enam bulan. Dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (15/7/2026), Ferry menjelaskan bahwa koperasi di perkotaan memiliki karakteristik berbeda dengan koperasi desa. "Itu memang Koperasi Kelurahan Merah Putih di Melawai yang itu didirikan secara mandiri oleh pengurus, dan memang kami belum masuk ke kelurahan, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta," kata Ferry.

Ferry menyebut Kementerian Koperasi berencana menyusun prototipe khusus bagi Koperasi Kelurahan Merah Putih di kota-kota besar dengan model bisnis dan studi kelayakan yang berbeda. "Tapi dalam waktu dekat kami akan apa membangun prototype yang khusus untuk di kelurahan di kota-kota besar dengan model bisnis dan feasibility study yang berbeda," ujarnya. Pemerintah saat ini masih memprioritaskan pembangunan kelembagaan dan infrastruktur koperasi di wilayah pedesaan.