Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3) memastikan bahwa fenomena munculnya kembali bangunan bekas permukiman di dasar Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, merupakan kondisi wajar dan tidak mempengaruhi fungsi bendungan. Kepala BBWSC3 Dedi Yudha Lesmana menjelaskan bahwa meskipun air menyusut hingga 80 sentimeter dari elevasi normal, tampungan air tetap aman untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi.
Penyebab Munculnya Kampung Tenggelam
Bangunan yang tampak kembali tersebut berada di Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, sekitar 16 kilometer dari as bendungan. Area tersebut awalnya merupakan permukiman padat penduduk yang tergenang saat bendungan diisi. Dedi menyebutkan bahwa bangunan-bangunan itu tidak dihancurkan pada saat penggenangan, melainkan hanya dibersihkan dari tanaman. "Kondisi seluruh area genangan meski sudah dibebaskan tidak dilakukan demolish (pembongkaran) untuk seluruh bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing (pembersihan) oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja," ujarnya.
Debit Air dan Suplai Irigasi
Meskipun permukaan air turun, suplai irigasi ke Daerah Irigasi (DI) Ciujung tetap terjaga. Debit total air yang dirilis dari Bendungan Karian mencapai 24 meter kubik per detik sebagai suplesi irigasi dari intake bendungan ke Bendung Gerak Pamarayan Baru. "Saat ini tampungan Bendungan Karian masih aman untuk memenuhi kebutuhan air baku maupun irigasi. Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal merupakan kondisi yang lazim terjadi pada musim kemarau dan masih berada dalam batas aman operasi waduk," jelas Dedi pada Rabu (28/7/2026).
Upaya Antisipasi Musim Kemarau
BBWSC3 terus memantau dan mengelola tampungan air untuk mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus. Langkah ini sejalan dengan arahan Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Arnold Ritiauw, agar seluruh unit kerja mengoptimalkan pengelolaan tampungan air selama tiga bulan ke depan. "Sebagai upaya mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Agustus mendatang, BBWS C3 terus menjaga ketersediaan air pada tampungan yang dikelola, baik bendungan maupun bendung agar tetap mampu memenuhi kebutuhan air untuk masyarakat," kata Dedi.
Kondisi Tampungan dan Elevasi Air
Saat ini, air dalam waduk hanya menyusut sekitar 5 persen dari volume normal. Penurunan elevasi muka air sekitar 80 cm dari muka air normal menyebabkan bangunan yang sebelumnya terendam mulai terlihat jelas. "Pada muka air banjir (MAB) waduk, sebagian rumah akan tenggelam karena beda tinggi dengan muka air normal sekitar 3,35 meter. Saat ini elevasinya turun sekitar 80 cm dari muka air normal," terang Dedi. Meskipun demikian, sebagian lahan dan bangunan yang telah dibebaskan tetap tampak karena hanya tergenang sebagian, bahkan saat muka air waduk berada pada elevasi normal.
Dampak bagi Warga dan Pertanian
Munculnya kembali bangunan bekas permukiman ini menarik perhatian warga setempat. Banyak yang bernostalgia melihat kampung yang dulu tenggelam. Meskipun sudah tidak beratap, tembok-tembok rumah masih berdiri kokoh. Dedi memastikan bahwa fenomena ini tidak mengganggu pasokan air untuk lahan pertanian di wilayah layanan DI Ciujung. Dengan debit suplesi yang stabil, kebutuhan air irigasi untuk petani tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Kesimpulan
BBWSC3 menegaskan bahwa kondisi Bendungan Karian aman dan terkendali. Fenomena munculnya kampung hilang saat kemarau adalah siklus alami yang tidak perlu dikhawatirkan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan mempercayakan pengelolaan sumber daya air kepada pihak berwenang.



