Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah wilayah Indonesia berpotensi mengalami hujan dan angin kencang pada Selasa-Rabu, 21-22 Juli 2026. Dalam rilis resminya pada Kamis (16/7/2026), BMKG menyebut bahwa sebagian besar wilayah Indonesia kini mulai didominasi kondisi kering seiring meluasnya musim kemarau.
Dominasi Musim Kemarau dan Curah Hujan Rendah
Pada Dasarian I Juli 2026, sebanyak 72,38 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah. Sementara itu, musim kemarau telah berlangsung di 423 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia. Kondisi ini menandakan bahwa sebagian besar daerah telah memasuki puncak musim kemarau.
BMKG juga menyebut fenomena El Nino telah aktif dan berpotensi memperkuat kecenderungan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah. El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat mempengaruhi pola cuaca global, termasuk mengurangi curah hujan di Indonesia.
Wilayah Berpotensi Hujan dan Angin Kencang
Meskipun dominasi musim kemarau, BMKG memperingatkan potensi hujan dan angin kencang pada 21-22 Juli 2026 di beberapa wilayah. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang ekstrem, terutama bagi mereka yang berada di daerah rawan bencana hidrometeorologi.
BMKG tidak merinci secara spesifik wilayah mana yang akan terdampak, namun secara umum daerah yang berada di sekitar wilayah pertemuan angin atau konvergensi dapat mengalami peningkatan curah hujan. Fenomena angin kencang juga dapat terjadi akibat perbedaan tekanan udara yang signifikan.
Dampak dan Imbauan BMKG
BMKG mengimbau masyarakat untuk memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi, terutama di sektor pertanian dan sumber daya air yang rentan terhadap kekeringan.
Dengan aktifnya El Nino, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat berdampak pada ketersediaan air bersih, produksi pangan, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.



