Kekeringan yang melanda Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, selama empat bulan terakhir memaksa warga berebut bantuan air bersih yang didistribusikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada Selasa, 21 Juli 2026. Puluhan warga, mayoritas ibu rumah tangga, terlihat mengantre membawa galon, ember, dan jeriken untuk menampung air yang disuplai menggunakan mobil tangki pemadam kebakaran.
Antrean Panjang Demi Air Bersih
Salah seorang warga, Putri, mengaku terpaksa ikut berebut karena air bersih sangat dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. "Airnya dikit jadi berebut, nanti air ini bakal digunain buat mandi, cuci baju dan piring," ujarnya. Warga lainnya, Enung, menambahkan bahwa kekeringan telah berlangsung sekitar empat bulan. Selama itu, warga harus mencari sumber air bersih yang jaraknya cukup jauh dari permukiman. "Antre air disini sudah satu jam, udah empat bulan kekeringan ini, kalau mau ambil air jauh sekitar tiga kilometer," jelasnya.
Harapan Warga untuk Distribusi Lebih Sering
Enung berharap pemerintah dapat meningkatkan frekuensi distribusi air bersih selama musim kemarau masih berlangsung. "Saya mohon bantuannya (distribusi air bersih) karena banyak warga yang kekurangan air," harapnya. Bantuan air bersih ini menjadi sangat krusial mengingat wilayah Tangerang dan sekitarnya memang kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau tiba. Data dari BPBD menunjukkan bahwa kekeringan tahun ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan beberapa desa di Kabupaten Tangerang sudah memasuki status darurat kekeringan.
Dampak Kekeringan di Berbagai Daerah
Fenomena kekeringan tidak hanya melanda Tangerang. Sebelumnya, 14 daerah di Jawa Timur juga telah menetapkan status darurat kekeringan. Di sisi lain, Sungai Cisadane yang menjadi salah satu sumber air utama di wilayah Tangerang Raya juga mengalami penyusutan debit air hingga 12 persen akibat musim kemarau. Hal ini semakin mempersulit akses warga terhadap air bersih. BPBD setempat terus berupaya mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak, namun keterbatasan armada dan sumber daya seringkali menjadi kendala.



