Suara Dosen di Ruang Publik Semakin Tersisih oleh Beban Administratif
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena yang semakin mencolok adalah jarangnya suara dosen terdengar di ruang publik. Bukan dalam forum akademik seperti seminar atau webinar kampus, melainkan di media massa dan percakapan warga yang membahas arah serta dinamika masyarakat secara lebih luas. Hal ini bukan disebabkan oleh habisnya gagasan atau ide dari para akademisi tersebut, melainkan karena suara mereka perlahan-lahan tersisih oleh rutinitas kerja yang tak pernah benar-benar selesai.
Rutinitas Administratif yang Menyita Waktu dan Energi
Di lingkungan kampus, aktivitas intelektual yang seharusnya menjadi fokus utama sering kali kalah oleh urusan administratif yang menumpuk. Rapat berlapis-lapis, laporan yang harus disusun berulang kali, borang yang terus-menerus diperbarui, dan indikator kinerja yang wajib dipenuhi telah menyita sebagian besar waktu dan energi dosen. Meskipun tugas mengajar tetap berjalan dan penelitian akademik tetap dikejar, ruang untuk mengolah pikiran secara mendalam menjadi sangat terbatas.
Kegiatan seperti membaca dengan tenang, menulis dengan jarak yang memadai, serta menyampaikan gagasan kritis ke publik kini dianggap sebagai kemewahan. Padahal, dalam konteks masyarakat yang semakin kompleks dan bising, peran perguruan tinggi justru seharusnya semakin vital. Ketika wacana publik dipenuhi oleh opini cepat, emosi sesaat, dan kesimpulan instan, dibutuhkan suara yang mampu menahan laju, memberikan konteks historis serta sosial, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu nyaman namun penting.
Peran Kampus sebagai Penjernih Wacana Publik
Di sinilah seharusnya perguruan tinggi hadir—bukan sekadar sebagai komentator reaktif terhadap isu-isu terkini, melainkan sebagai penjernih yang memberikan analisis mendalam dan berbasis bukti. Sayangnya, kita sering menganggap suara intelektual publik sebagai tambahan atau pelengkap semata, bukan sebagai kebutuhan mendasar bagi kesehatan demokrasi dan perkembangan masyarakat.
Dengan beban administratif yang semakin berat, dosen-dosen terpaksa mengalihkan perhatian dari kontribusi publik menuju pemenuhan target internal kampus. Imbasnya, masyarakat kehilangan sumber daya berharga untuk memahami kompleksitas masalah sosial, ekonomi, dan politik. Revitalisasi peran dosen di ruang publik menjadi tantangan serius yang perlu diatasi melalui kebijakan kampus yang lebih mendukung aktivitas intelektual bebas dari belenggu birokrasi yang berlebihan.