Gunung Semeru Alami Tiga Kali Erupsi dalam Rentang Dua Jam Pagi Ini
Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan erupsi sebanyak tiga kali pada pagi hari ini. Berdasarkan laporan resmi dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, rangkaian erupsi tersebut terjadi dalam rentang waktu antara pukul 06.30 WIB hingga 08.30 WIB.
Kolom Abu Mencapai Ketinggian 1.000 Meter dengan Intensitas Sedang
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, melaporkan bahwa kolom abu hasil erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Kolom abu tersebut tercatat mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas puncak dan bergerak mengarah ke utara. Hingga saat ini, aktivitas erupsi masih terus berlangsung dan dipantau secara ketat oleh tim pengamat.
Status Gunung Semeru tetap dipertahankan pada Level III atau Siaga, mengindikasikan bahwa gunung api ini masih dalam kondisi aktif dengan potensi ancaman yang perlu diwaspadai. Pihak berwenang menegaskan bahwa tidak ada perubahan status dalam waktu dekat, mengingat aktivitas vulkanik yang masih berlanjut.
Imbauan Ketat untuk Masyarakat di Sekitar Kawasan Gunung Semeru
Petugas secara tegas mengimbau seluruh masyarakat, terutama yang bermukim di sekitar lereng Gunung Semeru, untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 13 kilometer dari puncak gunung. Larangan ini diberlakukan sebagai langkah antisipasi untuk menghindari risiko langsung dari erupsi.
Selain itu, warga juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lanjutan yang dapat muncul pasca-erupsi. Potensi bahaya tersebut meliputi:
- Awan panas guguran yang dapat meluncur dengan kecepatan tinggi
- Guguran lava dari kawah aktif
- Lahar hujan yang mungkin terbentuk di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru
"Kami terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Semeru secara real-time. Masyarakat diharapkan untuk selalu mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang dan mematuhi semua imbauan keselamatan yang diberikan," tambah Liswanto dalam pernyataannya yang dikutip dari sumber terpercaya.
Pemantauan intensif dilakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan, termasuk peningkatan aktivitas vulkanik yang dapat memengaruhi status gunung. Koordinasi dengan instansi terkait seperti Badan Geologi dan PVMBG telah diperkuat untuk memastikan respons yang cepat dan tepat jika terjadi perubahan kondisi.