Pendidikan tinggi Indonesia saat ini sedang terjebak dalam delusi kemajuan. Di tengah riuh rendah jargon 'World Class University' dan Kampus Berdampak, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan potret stagnasi yang akut. Salah satu akar masalah mendasar yang paling tabu untuk dibicarakan adalah ketiadaan 'roadmap' atau peta jalan nasional yang jelas mengenai mengundang dosen asing untuk mendongkrak kualitas pendidikan tinggi.
Ketiadaan Peta Jalan Dosen Asing
Ketika kapasitas akademik domestik masih megap-megap untuk mengejar standar riset global, kebijakan penguatan ekosistem justru dihantui oleh paranoia birokrasi dan regulasi imigrasi defensif. Ilmuwan asing sering diperlakukan layaknya ancaman tenaga kerja, bukan sebagai katalisator transfer teknologi. Padahal, kehadiran dosen asing dapat mempercepat adopsi metode riset terbaru, membuka jaringan internasional, dan meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.
Tanpa peta jalan yang terintegrasi, setiap universitas bergerak sendiri-sendiri. Beberapa kampus top seperti UI dan ITB memang memiliki program visiting professor, tetapi skalanya masih kecil dan tidak terstruktur. Regulasi imigrasi yang berbelit-belit menambah hambatan, mulai dari proses visa yang lama hingga ketentuan izin tinggal yang tidak kondusif bagi akademisi jangka pendek.
Perbandingan dengan Vietnam: Kontras yang Memukul
Vietnam menjadi contoh nyata bagaimana keberanian membuka pintu bagi akademisi global bisa mempercepat transformasi pendidikan. Negara tetangga itu secara agresif merekrut dosen asing, terutama di bidang sains dan teknologi. Mereka menawarkan paket insentif kompetitif dan prosedur imigrasi yang sederhana. Hasilnya, peringkat universitas Vietnam merangkak naik, dan jumlah riset terindeks Scopus meningkat tajam dalam satu dekade terakhir.
Sementara itu, Indonesia masih berkutat dengan kecemasan berlebihan bahwa dosen asing akan menggeser tenaga lokal. Padahal, dalam dunia akademik, kolaborasi justru memperkuat kapasitas dalam negeri. Vietnam membuktikan bahwa kehadiran dosen asing tidak mematikan, malah memicu kompetisi sehat dan transfer keahlian.
Dampak Stagnasi pada Riset dan Inovasi
Stagnasi ini berdampak langsung pada produktivitas riset. Jumlah publikasi ilmiah Indonesia per kapita masih rendah dibandingkan negara tetangga. Kolaborasi internasional terbatas, sehingga inovasi yang lahir dari riset lintas batas sulit terwujud. Tanpa dosen asing, mahasiswa Indonesia kehilangan kesempatan belajar dari perspektif global dan jaringan riset internasional.
Jika tidak segera diatasi, delusi kemajuan ini akan semakin menjauhkan Indonesia dari cita-cita menjadi pusat pendidikan tinggi di ASEAN. Diperlukan keberanian politik untuk merombak kebijakan imigrasi dan menyusun roadmap nasional yang jelas, dengan target kuantitatif dan insentif bagi universitas yang aktif merekrut dosen asing.



