Kabupaten Kebumen menjadi salah satu dari dua daerah di Indonesia yang dipilih sebagai lokasi purposive sampling Program Rice Journey, inisiatif Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program ini bertujuan membangun sistem tata kelola perberasan nasional berbasis data untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendukung swasembada pangan.
Hal ini mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) Kebijakan Berbasis Data (Data-Driven Policy) Tata Kelola Komoditas Beras yang digelar Senin (27/7) di Trio Azana Style Hotel Kebumen, Jawa Tengah. Sebagai bagian dari penelitian, Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, dipilih menjadi lokasi kajian karena memiliki hamparan sawah produktif, komunitas petani aktif, akses memadai, serta mampu merepresentasikan potensi dan tantangan sektor pertanian di Kebumen.
Surplus Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah
Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pangan, Suhanto, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini mencatat surplus beras sebesar 5,23 juta ton, capaian tertinggi sepanjang sejarah. "Program Rice Journey menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat sistem pengambilan keputusan di sektor pangan," ujarnya dalam keterangan, Selasa (28/7/2026).
Sistem Pendukung Keputusan Terintegrasi
Melalui kerja sama dengan BRIN, pemerintah mengembangkan Executive Decision Dashboard Rice Journey, sebuah Decision Support System (DSS) yang mengintegrasikan data komoditas beras dari hulu hingga hilir—mencakup budidaya, panen, penggilingan, stok, distribusi, pasar, hingga konsumsi. Dashboard ini tidak hanya menampilkan kondisi terkini, tetapi juga mampu menghasilkan analisis risiko, simulasi skenario, dan rekomendasi kebijakan berbasis data. Sistem ini diproyeksikan menjadi early warning system untuk memantau produksi beras nasional sehingga pemerintah dapat mengambil kebijakan secara lebih cepat dan tepat.
Peran Strategis Kebumen sebagai Lumbung Pangan
Wakil Bupati Kebumen, Zaeni Miftah, menyambut baik kepercayaan pemerintah pusat. Sebagai penghasil beras terbesar kedelapan di Jawa Tengah, Kebumen memiliki potensi besar sebagai lumbung pangan. Pemerintah daerah terus mendorong peningkatan produktivitas melalui penyediaan alat dan mesin pertanian, perluasan luas tambah tanam hingga 170 ribu hektare, serta pengembangan sistem irigasi pompa agar petani dapat meningkatkan intensitas tanam dari dua kali menjadi tiga kali setahun.
Zaeni juga berharap penyerapan gabah petani oleh Bulog dapat ditingkatkan. Produksi gabah di Kebumen telah melampaui kebutuhan konsumsi daerah, sehingga optimalisasi penyerapan hasil panen akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Data Terstandar dan Interoperabel
Dalam implementasi Program Rice Journey, setiap organisasi perangkat daerah (OPD) diharapkan menyediakan data yang terstandar, terintegrasi, dan interoperabel. Dinas Komunikasi dan Informatika berperan sebagai walidata, menyiapkan integrasi data, metadata, serta arsitektur pertukaran data antarperangkat daerah. FGD tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Kebumen, Staf Khusus Menko Pangan, Staf Ahli Bidang Ekonomi Maritim Kemenko Pangan, Asisten Deputi Stabilisasi Harga Pangan, Kepala Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, tim peneliti BRIN, Perum Bulog, BPS Kebumen, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kebumen, OPD terkait, pemerintah desa, kelompok tani, perusahaan penggilingan padi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Model Pengelolaan Data untuk Daerah Lain
Program ini diharapkan menjadi model pengelolaan data komoditas beras yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia guna memperkuat ketahanan pangan nasional melalui kebijakan yang lebih akurat dan berbasis data.



